Tentang Muka Babu

Beberapa minggu yang lalu media cetak maupun online memberitakan tentang Ijin tinggal di Indonesia bagi pada WNA yang menikah dengan WNI. Berita ini tentu saja kabar yang luar biasa baik bagi pelaku kawin campur karena memang mereka sudah bertahun-tahun memperjuangkan masalah ijin tinggal pasangannya, yang selama ini WNA harus menggunakan KITAS dan tiap tahun/beberapa bulan sekali harus memperpanjang di Imigrasi. Bukan hanya memakan banyak waktu tapi juga biaya yang cukup besar. Belum lagi kalau dipersulit oleh oknum2 di kantor imigrasi. Tapi ada satu “fenomena” yang pingin saya bicarakan dipost ini. Bukan tentang ijin tinggalnya ataupun WNA-nya, namun tentang tanggapan2 dari beberapa orang yang saya baca di kolom komentar yang juga sering saya temui diberbagai macam forum lainnya. Yaitu bagaimana beberapa orang memandang rendah para perempuan yang menikah dengan WNA. Sebelumnya saya agak ga suka nyebut WNA dengan panggilan “bule”, karena WNA bukan cuma yang berasal dari daerah Eropa atau Australia & US saja, tapi negara2 tetangga-pun sudah termasuk WNA, walaupun memang biasanya kejadian dipandang rendah dan diejek secara fisik terjadi kepada perempuan yang menikah dengan pria2 WNA berparas “bule”.

Komentar yang paling sering saya temukan adalah “ah makin banyak cewe2 muka babu yang bakal cari bule nih” atau “ngapain sih cari WNA, kayak ga ada cowo lokal aja?” atau “pasti p*r*k suka banget nih” dan beberapa komentar merendahkan lainnya. Bagi saya ini lucu banget. Kata-kata mereka sangat merendahkan dan menunjukkan kalau para perempuan2 ini secara fisik sudah tidak selevel dengan mereka (menggunakan kata muka babu, tampang pembantu, dll) tapi ketika perempuan2 yang sama menemukan jodohnya dan ternyata seorang WNA, ucapan-ucapan kasar langsung terlontar. Maksudnya apa ya? Iri kah? tapi kenapa harus iri, toh mereka juga sudah merendahkan. Merasa kalah saing dengan pria WNA? sama ga masuk akalnya..

Jika yang berkomentar itu wanita, hmm.. apakah iri karena bukan dia yang disukai WNA? tapi tanpa WNA sudah banyak pria indonesia yang suka kok (kan ga berparas seperti babu), malah kalo dapet WNA bisa2 ikutan dikatain muka babu juga.. masak ya mau dikatain muka babu kan?? trus kira2 apa ya alasannya?

Saya juga masih bertanya2 mengapa para perempuan yang menikah dengan WNA (terutama yang menikah dengan pria WNA berparas “bule”)  harus dianggap seperti perempuan2 tidak baik dan entahlah.. seperti pantas di panggil dengan kalimat2 merendahkan. Harus diakui beberapa perempuan Indonesia ada yang menggunakan pendekatan fisik untuk menarik para pria2 WNA, ada juga yang dengan sadar mau dijadikan istri sementara, tapi kalau kemudian semua dianggap sama apa ga sama aja seperti bilang semua bangsa Indonesia adalah tukang korup atau Islam adalah teroris? Padahal hanya karena sedikit manusia2 yang berbuat tidak baik dengan membawa atribut2 tertentu, lalu semua dianggap sama? Ga perlu yang se-ekstrim itu deh. Misalnya ada yang bilang satu suku di Indonesia itu sifatnya ga baik, dll dll hanya karena beberapa orang saja. trus semua dianggap sama, apa ya ga ngamuk sisanya? pasti ga suka juga.. Jadi kenapa harus mengeneralisasikan hanya karena beberapa orang berlaku buruk?

Selain itu apa ya mereka ga inget kalau yang namanya jodoh di tangan Tuhan. Siapa tau aja nanti para pria2/wanita yang suka menghina itu anak perempuannya ternyata berjodoh dengan seorang WNA, apa ya dia mau anaknya dikatain “p*r*k” sama orang yang ga dikenal? dikatain “muka babu?” atau untuk mencegah agak tidak terjadi mereka menanamkan dari kecil untuk membenci bule? Apa ya ga jadi rasis ya?

Pingin tau, bagaimana ya mengubah cara pikir sempit seperti itu? Sebagai orang2 yang tinggal di sebuah negara dimana dari ujung barat sampai ujung timur muka & fisiknya beda2 sepertinya agak aneh deh kalau masih berpikiran sempit kayak gitu.

Advertisements

More about Bebe

7 thoughts on “Tentang Muka Babu

  1. kittenholic

    i wonder, yg kaya gitu-gitu tuh emang kebiasaan jeleknya orang indonesia aja ato orang timur yah? Terlalu kepo sama urusan orang lain dan jadi sering ngecap buruk orang lain, prejudice. Harusnya makin kesini sih pikiran orang-orang makin terbuka, kan makin globalisasi, tapi heran ya kenapa masih ada rasisme dan prasangka-prasangka kaya gitu. Kadang jadi suka bertanya-tanya juga gimana bangsa kita mau maju kalo masih punya pola pikir kaya gitu.

    Reply

    1. Bébé

      Ga ngerti juga kenapa bisa gitu. Sedih aja liatnya.. Padahal sama2 orang Indo juga, bahkan mungkin 1 suku (yang artinya mukanya ya setipe2 juga) tapi kadang pedes banget kalo komentar masalah fisik.

      Reply

  2. rahma

    saya salah satu pelaku nikahcampur suami WNA, agak gemes juga, knp mindset muka babu di generalisir gitu.., sebenarnya menikah dgn wni or wna sama aja, malah menikah dgn wna ga semua nya terlihat mudah, perlu perjuangan yang extra, kayak urusan di KUA aja..krn denger nikahnya sama Bule harga langsung di patok tinggi, malah ada istilah nego segala**gila ajaa..emang mereka pikir yg saya nikahin anaknya donald trump gitu..yang enteng aja keluarin gepokan dollar.., wna or istilah org bule, mrk juga sama aja manusia biasa..ga semuanya kaya raya, kalau alasan knp milih nikah sm wna..balik lagi: knp heran.., kuasa jodoh kan ditangan Tuhan, kalau nanyain kenapa..berarti mempertanyakan pula “kuasa Tuhan” ha simple aja sih..
    salam…

    Reply

    1. Bébé

      yah begitulah… susah juga kalo udah kebiasaan.. udah jadi daging, susah diubahnya..

      soal KUA, Alhamdulillah waktu aku nikah dapet penghulu yang baiiik banget… ga sama sekali nembak harga harus bayar segini2, padahal tanggal nikahku tanggal rame (10.10.10), mana sama WNA pula… Padahal udah deg2an karena temen juga ada yg nikah sama WN Rusia di suruh bayar 10 juta (bukan di KUA yang sama sih)..tapi .mantep kan mintanya… ckckck…

      Reply

      1. nagaya

        duh….itulah org kita..sukanya memang merendahkan sesama..saya juga kbtulan nikah sama pria asing [ amerika kulit putih ] kami nikah udah jalan thn ke tujuh.saya paling males klo lagi pulkam, [ ke sulteng ] setiap kami pulkam ke indonesia, rumah kami di sana selalu di kerubungin org..kayak ada topeng monyet aja..

        Reply

        1. Bébé

          Walaaaah.. parah banget.. Yah, memang harus kitanya yang banyak sabar yaa… Abis gimana lagi, susah juga kalo ngarep orang2 itu yang berubah..

          Reply

  3. intan

    iri tuh, makanya bilang seperti itu… :mail:

    Reply

Why not leave a comment. It's free of charge :P