Those 4 Steps

Tahun lalu gue minjem sebuah komik berjudul Love as a Foreign Language karya J.Torres & Eric Kim. Awalnya sih minjem buku ini karena gambarnya lumayan bagus dan resensinya cukup menarik. Tapi ternyata setelah gue baca, isinya bagus bangeeet.

LOVE

Secara singkat, buku komik ini menceritakan tentang seorang cowok dari Canada yang memutuskan untuk tinggal di Korea Selatan (lupa alasan pindahnya kenapa). Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, cowok ini bekerja sebagai guru bahasa Inggris di sebuah tempat les di Seoul. Perjuangan untuk beradaptasi di negara yang baru dan kemudian pada akhirnya menemukan cinta, membuat dia yang awalnya udah males-malesan buat tinggal di Korea malah terbalik jadi sedih waktu harus meninggalkan negara tersebut + orang yang disayanginnya.

Yang menarik perhatian gue dari buku ini bukanlah soal kisah cinta 2 negara antara si pria dan cewek Korea-nya. Kalo soal yang satu itu ga seru cyiiin.. kurang ada dramanyaaaa. Yang gue suka adalah cerita proses adaptasinya si pria di negara baru yang bagi gue perasaan dia itu familiar bangeeet.

Menurut komik ini, ada 4-H yang biasanya harus dilewati seseorang yang pindah ke tempat baru yang asing. Tahapannya adalah Honeymoon, Horror, Humour dan Home.

Tahapan pertama adalah Honeymoon/Amorous

“Stage when everything is new and intriguing. You embrace the unknown, want to explore, and maybe even experiment a little. You want to be there, you want to make friends, you want to experience that which you’ve never experience before. But eventually, the honeymoon is over…” – Love as a Foreign Language

Sewaktu gue menginjakkan kaki di tanah Swedia, perasaan yang mendominasi saat itu cuma satu.. yaitu, “WHOOAAAAA” alias norak to the max hahahaha.. Entah karena udaranya yang mulai dingin dan atau memang suasananya yang 180° dibandingkan Jakarta yang padat dan panas, gue langsung merasa betaaaaah banget di sini. Terlalu banyak hal-hal seru yang baru gue liat pertama kali yang bikin rasa kangen rumah ga terlalu menyeruak dari dalam hati. Pertama kali tinggal di apartemen, pertama kali liat salju beneran, pertama kali kemana-mana musti jalan kaki (kalo ini sih emang dasarnya naseb punya suami sadis), belajar bahasa baru, ketemu orang dari berbagai negara, dll, yang bagi gue adalah perasaan yang sangat menyenangkan. Everything was new, fun and exciting. But like the book said.. Eventually, the honeymoon is over…

Yang membawa kita ke tahap ke-2, yaitu Horror/Appalled

“A stage at which point the thrill is gone. You’ve done some exploring and are shocked at what you found. The experiment went awry and you blame the strange faces around you, the odd cultural conventions imposed upon you, the alien environment that you are trapped in…” – Love as a Foreign Language

Setelah kira-kira 9-10 bulan tinggal di Swedia, baru deh mulai berasa nyebelinnya. Sebel karena kalo mau jalan-jalan itu musti hari Sabtu dan itu pun ga bisa sore-sore plus hari Minggu toko-toko pada tutup. Gue bete kalo butuh apa-apa dari swalayan ga bisa dadakan. Butuh obat pun ga bisa asal ke apotek, karena mereka tutup juga kalo weekend. Bikin pundung karena mulai ga betah di rumah, tapi nyari kerja susah. Kesel karena tiap kali ke dokter, dokternya kagak ada yang mau ngobrol pake bahasa Inggris, maunya pake bahasa Swedia. Bookk, ngobrol sama dokter pake bahasa Indo aja puyeng, ini lagi pake bahasa baru. Arrrggh.. Mangkel kalo lagi males masak, ga bisa asal panggil mas-mas jualan yang lewat depan rumah. Pokoknya semuanya (dari hal gede sampe hal kecil) bikin frustasi deh. At that point, gue sempet bilang ke Bubu.. “I wanna go home” sambil nangis termehek-mehek yang dijawab pelan sama bapak suami “but you are home now”.

Dan masuklah kita ke tahap ke-3, Humour/Amused

“Stage when you get over yourself. You remember that you’re not at home, and that’s okay. The strangers, their culture, and this place are actually all okay too. You laugh at the things that once terrified you, as well as yourself for being scared or shocked at such stuff…” – Love as a Foreign Language

Setelah denger jawaban Bubu tadi, mau ga mau gue pun harus mulai pasrah dengan keadaan. Iya siiiih, mau diapain juga Swedia ya sekarang rumah gue. Toh sampai sekarang juga sama sekali ga ada rencana pulang ke Indo untuk menetap lagi. Mau gue nangis guling-guling, meraung-raung, marah-marah sama keadaan juga ga ada gunanya. It was my choice. Good or bad I just need to suck it up and move on. Lagian ga ada yang bilang kalau tinggal di LN itu bakalan menyenangkan terus. All sunshine and unicorns on the vast sky filled with beautiful rainbow. Pasti ada ajalah sucky parts-nya

Bermulai dari situ, gue mulai fokus lagi sama hidup gue di sini. Udah saatnya gue berhenti membandingkan antara hidup di Indo vs. Swedia. Gue mulai fokus cari kerja, balik sekolah bahasa lagi. Ditawarin magang di supermarket pun gue hayok aja. Yang penting bisa meraup pengalaman sebanyak-banyaknya. Gue juga mulai mencari-cari passion gue apa dan alhamdulillah, secara ga sengaja ternyata ketemu juga.

and now, I think it’s safe to say that I’m already on step 4, Home/Adapted

“Is the time you develop some sensitivity, even a fondness, towards the people, places, and things around you. You can also trust yourself, your surroundings, and yourself in this enviroment more. There may even be a new spark in the romance that waned following the honeymoon” – Love as a Foreign Language

Yup, now I can truly feel like Sweden is my second home now. Or maybe a home away from home. Sekarang gue udah pasrah dengan semua keadaan yang ada. Gue mulai terbiasa dengan bahasanya yang ajaib. Kalau di lepas di kota sendirian setidaknya ga langsung pingin nangis dan masih bisa ngajak ngomong orang. Gue mulai terbiasa dengan tradisi orang-orangnya juga, cara mereka bercanda, dll. Gue pun sedikit demi sedikit mulai berusaha mengubah diri untuk bisa fit-in di lingkungan sekitar. Bukan berarti melepas tradisi ato identity as an Indonesian atau gimana ya (bok kalo itu mah udah jelas banget dari muke. Lah muka Jawa gini, gimana mau dibilang orang Swedia.. hahaha). But I’m just trying to be and feel like a local.

Mungkin kenyataan kalau gue belum pernah pulang ke Indo selama 3 tahun setelah pindah ke sini menjadi salah satu faktor penting kenapa gue bisa ngerasa Swedia ini rumah ke-2 lumayan cepat. Mungkin juga karena gue sekarang udah sepenuhnya sadar kalau yaaa… kemungkinan gue balik ke Indo itu kecil banget. Jadi percuma kalau gue kekeuh membanding-bandingkan kehidupan di sini dan di sana. Walaupun tetep siiih, yang namanya komplen-komplen mah masih ada aja.. ahahaha.. Ya kan aku manusia jugaaa.. :hide: :blush2:

Sekarang gue mulai sibuk membuat rencana hidup gue di sini. Balik lagi sekolah bahasa tingkat SMA supaya bisa daftar kelas fotografi di Högskola (Biar punya sertipikat kakak. Nama pun pendatang yaaah). Selain itu juga siap-siap ngurusin anak dengan segala problematikanya nanti (tradisi, bahasa, dll). Haaaah.. sepertinya proses yang harus gue lalui masih sangat panjang.

Oh well.. cuma bisa bilang ke diri sendiri.. CEMANGAAAAAT KAKAK!!! You can do it!! :highfive:

Ada yang melewati step-step yang sama seperti di atas? atau mungkin masih stuck di satu fase?

Advertisements

More about Bébé

An Indonesian who currently living in Helsingborg, Sweden. A wife and a mom of two cute baby girls. A gadget-freak, manga lover and k-pop listener. Has a passion for photography. Love traveling and cooking.

78 thoughts on “Those 4 Steps

  1. Dee_Ahokas

    Agak serem juga yaaa mendapati kita berada di negeri antah berantah yg pastinya bikin kangen rumah and segala aktifitas yg biasa kita lakukan! :fear:
    tapi bener kata mba Bebe Ini udah jd pilihan kita yaa mau ga mau harus kita jalanin.. Kita udah memutuskan untuk aju selangkah ya jangan ampe mundur lagi! Moga nanti aku bisa punya hati yg lapang kya mba Bebe yg bisa cpt beradaptasi dgn cepat ke lingkungan n segaaalaaa hal yg baru, amiiin :pray:
    Cemangaaaat Kakaaaa :drinking:

    Reply

    1. Bébé

      Sama2… nanti nikmatin aja semua prosesnya. :yes:

      Reply

  2. Ika Koentjoro

    Pecinta manga juga ya.
    Setelah pindah ke kampung sekarang aku mulai menerima kondisi yang ada. Walaupun secara jarak ndak jauh, tetep sama-sama di jawa, perasaan ndak betah diawal tetep ada beb

    Reply

    1. Bébé

      Iya mba.. Alhamdulillah di perpus lokal sini ada bagian komik2 jepang yang bisa dipinjem bawa pulang. Jadi kalo lagi iseng, suka ngiclik kesana bawa tas plastik gede, biar muat banyak hahahaha..

      Emang proses adaptasi ga selalu mulus + gampang ya mba.. :lonely:

      Reply

  3. Nella

    Be kamu ngikutin serial topeng kaca juga ga? :D.
    Aku juga sudah 3 thn ga pulkam nih. Sekarang sih sudah bisa beradaptasi dg lingkungan baruku.
    Sudah bisa ngelayap sendirian B-) , ya dinikmatilah tinggal di negara baru 🙂 .

    Reply

    1. Bébé

      Ga Nel.. aku ga terlalu suka topeng kaca.. hihihi.. sukanya Candy2 sama Time limit.. 😀
      Waaaa.. sama dooong :highfive: , udah ada rencana pulkam belum? aku mundur2 terus.. :sigh:

      Ahahaha.. kalo udah berani kemana2 sendiri udah enak yaah.. :good:

      Reply

  4. noni

    semangat Bebe 🙂 pasti bisaaaaa

    Reply

  5. niee

    Emang gak semudah dan gak seenak yang dibayangkan orang lain ya mbak be.. kalau aku sendiri malah bosen di pontianak terus.. gak pernah merasakab tinggal di tanah orang.. denger orang cerita dan dapet kehidupan baru itu menyenangkan sekali.. tapi.. ya nasebnya emang cuma disini kali yak..

    Reply

    1. Bébé

      Tapi walaupun di Pontianak terus kan hidupnya selalu baru Niee.. apalagi bentar lagi ada si dedek bayi.. ya ga? :yes:

      Reply

  6. emma

    cemungut cemungut kak be,,apalagi nanti kan ada mibe yaa 😛

    Reply

    1. Bébé

      hihihi iyaaaa harus terus semangat buat si unyil. 😀

      Reply

  7. Lia

    Pukpuk mbak bebe. Duh jd mikir juga. Aku yg d jakarta malah pengen coba tinggal di luar krn udh sumpek dan capek sama keruwetan kota jakarta. Tp tinggal di negara lain yg bukan rumah kita, juga tough ya. Aku belom ngerasain aja nangis ngeraung2 krn kangen hehe…

    Semangat terus yaaaaa :hug:

    Btw, pas bubu bilang you are home now kok aku nyesss gitu ya kayak berasa nonton drama korea hehehe… *ambil gayung buat getok kepala*

    Reply

    1. Bébé

      Hihihi iya dia lagi latihan jadi artis korea kayaknya ahahaha jawabnya bikin mellow gt.. :hide:

      Reply

  8. idang

    Kalo di indo sabtu mggu malah rame ya Mbak, ya sih kebayang gimana susahnya proses adaptasi itu 🙂 semangat yah bumil…

    Reply

    1. Bébé

      iya.. di sini minggu itu biasanya dipake buat kumpul keluarga. jadi toko2 kebanyakan tutup… huhuhu padahal kan aku pingin belanja yaa ;P

      iya pastinya semangaaaat

      Reply

  9. Rere

    Woaaa kak Bebe aku malah selalu pengen someday bisa tinggal di luar loh, mumet sm jakartaaaa 🙁 tapi belom kebayang aja yang gaenak2nya dan belajar adaptasinya, apalagi aku homesick-an gini hahahaha… Cemangat yah kak Bebe 🙂

    Reply

    1. Bébé

      Makasiiih..

      hihihi tenaaang, kalo udah niat pasti bisa kok Re.. asal mau lepas dari comfort zone aja sih kalo kataku ya..

      Reply

  10. Santhy

    Jadi teringat pengalaman dulu waktu masih di jepang be..tahap yang ke-2 benar bgt rasanya..tapi sayang belum sempat sampe tahap yang ke-4, gw dah balik ke indo..mantap donk be, dah bisa tahap 4, ciayooo..
    Tertarik nih baca komiknya 🙂

    Reply

    1. Bébé

      Huaaa senangnya dirimu pas di tahap 2 udah pulang ya.. jadi setidaknya pas lagi sebel2 bisa pulang.. hihihi

      komiknya lumayan kok, tapi ga tau di Indo jual ga ya komik korea gini.. :thinking:

      Reply

  11. anggi

    Aku silent readernya mbak bebe nih. Aku baru pindah ke Genova Italy. And yessss hidup di negara orang itu tidak gampang. Aku baru maduk ke tahap 2. Lagi belajar bahasa baru dgn intonasi nada yg susah (booook, org sini klo ngomong kayak nyanyi plus cepet banget kayak gak napas, bingung akunya, melongo doang). Kadang masih berasa nangis2nya dan jawaban suami persis kayak Bubu, “but you’re home now”. Masih sedih gak bs makan tempe tiap hari (lidah ku jawa banget yaaaa :p) kadang BT mau ke supermarket cpt bgt tutupnya trs gak lengkap sayurnya. Bosen makan pasta, pengennya nasi gudeg. Jauh dari keluarga. Dan masih banyak lagi (curcol deh jadinya). Tapi ya bener, ini keputusan yang sudah di ambil dan mari dijalani konsekuensinya. Support suami, temen, keluarga penting banget. Kalo nggak mbrebes mili trs kata orang jawa bilang. Soooo mari berjuang. Wish me luck utk naik kelas ke tahap selanjutnya. 😀 salam dari italy

    Reply

    1. Bébé

      Waaa.. semoga cepat berlalu fase keduanya.. :gym:

      Iya hal2 kecil yg tadinya ga nyebelin banget lama2 suka bikin bete yaah kalo dibawa pake hati. Apalagi kalo udah mulai ga bisa ngapa2in yg sebelumnya kita udah terbiasa.

      Btw, di Genova ga ada toko Indo gt kah? ato toko asia yg jualan tempe? disini toko asianya masih jual tempe loh.. 😉

      Reply

  12. Angela

    semangat ya Be! Nanti kalo Mibe udah lahir pasti makin home lagi deh.

    Gue somewhat gitu juga sih, except with the honeymoon part. Gue pas pindah dari Jakut ke Jaksel kan banyak complainnya hehe… Menurut gue Jakselitu terlalu sumpek. Selalu pengen pindah rumah lagi ke daerah Jakut. Tapi ya rencana itu nggak ada lah di plan rumah tangga gue dan Diaz. Akhirnya setelah 3 tahun, gue baru bisa menerima Jaksel dan menikmati what the south has to offer. Ini baru beda kotamadya aja lho, gimana lo yg beda negara ya.

    Reply

    1. Bébé

      Amiiiin semoga makin betah..hihihi

      nyahahaha gile berasa banget ya Ngel bedanya? padahal cuma bbrp kilo kali ya jaraknya. Tapi emang kalo udah pewe di satu posisi, suka males ga sih harus adaptasi lagi 😀

      Reply

  13. Ine

    Masih honeymoon nih, Be.
    Plus sedikit horor kangen sarapan nasi uduk/lontong sayur.
    Tapi sebentar lagi udah mau pulang (^_^)
    Glad you finally found a second home.

    Reply

    1. Bébé

      Hahahaha berarti tinggal dikit disabarin ya Ne.. lontong sayur sudah menanti di rumah. ^_^

      Iya Alhamdulillah deh. Udah berserah diri aja kayaknya sih hahaha

      Reply

  14. qonita

    pukpuk bebe..
    i wholeheartedly agree with those 4 steps 😀 dulu pas awal kuliah di bandung, baru kerasa enaknya tinggal di solo hihi
    dan mule adaptasi lagi ama kroyaa..emang semuanya ga seindah drama haha
    untung aye masih single jadi emang masih niat menetap di indonesia tercinta setelah ini 😀

    semoga bebe makin betah di swedia :heart:
    ntar pasti seru ngebesarin mibu hihi

    Reply

    1. Bébé

      Amiiiiin… iya nih harus cemungudh.

      kalo ada kemungkinan masih bisa balik lagi ke Indo emang bikin lebih tenang yah.. 😀

      Reply

  15. tiwie

    huaaaa,,, bebe ini aku bangeud….. padahal cuma pindah bekasi doangan dari bandung (yang mana kalo mudik hny antar gerbang tol doang) tapi bikin aku nyesuaikan diri sm kondisi disini yang jauh beda sama di bandung dulu.
    kita sama2 survived yaah, toh yang sekarang kita jalani ini adalah keputusan besar kita *ihhh, koq aku jadi curcol begini* 😀
    cemungud Be,, sehat2 terus bumil :*

    Reply

    1. Bébé

      Makasiiih..
      Hihihi ternyata yg deket2 pun perjuangan untuk bisa adaptasinya susah juga yaa.. Mari sama2 berjuaaaang :gym:

      Reply

  16. liamarta

    Semangat mba bebe.. Mba pasti bisaa :yes: lagian kan ada mas bubu yang selalu siap memberikan support pada mba bebe dan mibe :whistle:

    Btw, aku pun sedang mengalami keempat kondisi itu mba, dan sekarang mulai-mulai masuk ke step 3 tapi kadang masih mundur ke step 2 (alias masih suka galau-galau ndak jelas :blush: ). Padahal aku posisinya sekarang pindah ke kota dimana keluargaku tinggal, tapi karena sebelumnya belum pernah tinggal lama di kota ini (keluargaku pun baru pindahan), jadi masih berasa asing bagi akunya. Dan susah payah berusaha beradaptasi. 😥

    Semoga proses adaptasi kita semua lancar terusss ya mba bebe. Terutama untuk mba bebe yang nun jauh di sana. Cemangkaaaa, cemangat kakaaaaa! :gym:

    Reply

    1. Bébé

      ayooo sama2 cemangaaaaat :gym:

      hahaha iya, balik ke step-2 itu gampang banget yah. Kalo lagi bete/cape juga rasanya langsung horror.. ahaha trus harus pelan2 lagi nyoba keluar. rasanya sih bakalan jadi proses yg ga pernah kelar yah.. :sigh:

      Reply

  17. Melissa Octoviani

    nanti kalo uda ada mibe, homenya pasti lebih berasa lagi hehehehe… tapi aku tetap setiap menanti kedatanganmu ke indo loh be, buat dipoto2 tentunya hihihihihi…

    Reply

    1. Bébé

      Ahahahahaha.. siph siph 😛

      Iya nanti kalo mibe semoga makin berasa home-nya nih. Jangan malah mundur lagi.. thihihihi

      Reply

  18. aftrie

    :cozy:
    Jadi ini tentunya jadi acuan gue juga ya, ntar dua tahun ke depan gimana.. karena rencananya juga ga pulang ke indonesia dulu sampe lulus kuliah.. tapi kalo urusan sendirian-kemana-mana itu, dari awal juga udah gitu sih, soalnya emang sendirian.. hiahahaha..
    Masih untung banget dapet kuliahnya di Swedia, karena orang-orang sini pada bisa bahasa inggris, dan mereka dengan baik hati mau switch ngobrol bahasa inggris sama orang2 non-swedish.

    Reply

    1. Bébé

      hihihi kurang lebih beginilah.
      iya org sini enaknya masih mau ngom bahasa inggris, tapi kalo di RS kebanyakan ga mau loh.. aku udah berkali2 ke dokter (dokter umum, dokter gigi, dokter kandungan) semuanya ga ngom bahasa inggris -__-“

      Reply

  19. Rifi

    dan saat kepulangan lo lagi ke Jakarta setelah sekian taun itu..HOROR! *nakut2in* hahahaha

    Reply

    1. Bébé

      muahahahahhaa udah ga ada hanimunnya segala ye.. begitu keluar dari soeta.. Horrorrr!!! ahahaha

      Reply

  20. aina

    Kaga pernah ngerasain bgitu sih be.. abis ga pernah pindah negara.. pindah nama jalan aja kaga.. hahaha.. abis merit tinggalnya masih di jalan yg sama kaya rumah ortu.
    Paling berasanya klo pindah kerjaan ya..
    Awalnya excited, trus nemu ga enaknya pas adaptasi, lama-lama klo emang cocok baru berasa rada nyaman..

    Reply

    1. Bébé

      Iya pindah kerjaan juga mirip2 sih Na.. tp skala lebih kecil kali ya.. cuma lumayan buat latihan hihihi

      namapun di tempat baru pasti emang ada masa 2 adaptasinya dulu hihihi

      Reply

  21. arman

    kalo gua pas pindah ke US malah tahapnya horror dulu be. soalnya pindahnya tanpa punya kerjaan tapi bawa anak istri. huahaha. asli horror banget rasanya. 😛

    Reply

    1. Bébé

      muahahahhaha.. iya itu mah nekat abis Man.. tapi lo hebat lah, akhirnya berhasil settle down juga. not everyone can do that toch..

      Reply

  22. Fety

    Semangat Bebe. Aku meninggalkan rumah ortu sejak tamat SMP, Be. Tinggal di rumah nenek yang jaraknya sekitar 15 menit pakai motor dari rumah ortuku. 1-2 itu aku alami selama 3 tahun berada di rumah nenek. Setelah itu aku punya prinsip, di mana bumi dipijak mari menjunjung langitnya 😀

    Reply

    1. Bébé

      yup.. iya mba.. emang harus bisa flexible yah supaya gampang adaptasi. kalo ga pasti pusing sendiri.. >_<

      Reply

  23. Yance

    Huahh puk puk be…semangatt…hebattt yahh kamu. Kalo aku sihhh jadi horor juga tinggal di negara orang jauh dr keluarga…hik hik, bisa jungkir balik sendirian dan bete kagak ada mol…di rumah terus, gak ngerti bahasa, benerr be, harus belajar terus yaa…

    Reply

    1. Bébé

      iya mba.. mau ga mau harus ngikutin deh maunya org sini gimana. ga bisa berenti belajar. 😀

      Reply

  24. Tanti

    Manganya jangan2 diitranslate ke svenska mbak? Kalo iya mungkin bisa jd sarana belajar bahasa yg menyenangkan nih…

    Sy kayaknya mengalami 2 tahap pertama sekaligus.. Senang & takjub, kesel ketika ada hal2 yg kurang menyenangkan (hujan angiin.. ga ada jasa setrikaa…).. Krn rencananya cuma akan stay 2 taun mungkin ga akan sampai feeling like home sih, tapi liat nanti deh…

    Reply

    1. Bébé

      ada beberapa manga yg ditranslate ke bhs swedia kok. tapi yg ini kebetulan pakai bahasa inggris. tapi emang aku belajar baca bahasa swedia dulu juga dari baca komik conan pk bhs swedia.. ahahahah

      hihi langsung 1-2 yah? mungkin nunggu pas udh masuk winter dulu biar kerasa balik lagi ke 1? hihihi

      iya kalau 2 tahunan mungkin baru aja udah mulai seneng, eh udah balik yaaa.. hihihi

      Reply

  25. Memez

    Yay… ceritanya inspiring bgt. soalnya kan banyak banget orang-orang yang ngerasa tinggal di luar negeri tuh asyik-asyik aja, padahal banyak yang harus dilalui ya…. semoga bebe, bubu, mibe/mibu sehat-sehat selalu ya…

    Reply

    1. Bébé

      Iya Mez.. tahapannya lumayan banyak dan ga selalu cepat berlalu lagi. Apalagi yang tahap horror tuh.. Gampang banget balik lagi kesana kalau lagi bete.

      Aamiin.. makasih doanya selalu.. :cozy:

      Reply

  26. Felicia

    Yang paling sering bandingin itu kurs Be…haha….kalo baru dateng dulu dikurs ke rp berapa, giliran di indo dikurs ke $ 😀
    Dulu gw setelah disini baru 6th ke indo lagi, lama yak…abis ada aja yang bikin ga jadi2, yang ortu kesini, lahiran, pindah rumah baru dst2. Sekarang abis 3 th mo ke indo lagi ntar nov….cant wait the day 🙂

    Reply

    1. Bébé

      Ahahaha.. iya bener banget. Ampe sekarang juga gue kadang masih suka banding2in sih.. tapi kadang udah bodo amat.. ahahaha :laugh:
      Nah itu dia, gue juga ampe 3 tahun ini ga balik2 karena itu.. Ortu dateng, pindahan, nabung, sekarang mo lahiran, dll… adaaaa aja alasannya.. hahaha

      Waaa.. asiknya bentar lagi balik.. 😀 :good:

      Reply

  27. selina

    ya allah saya yang cuma kuliah di jakarta aja nangis tiap hari krna kangen keluarga di jawa,, apalagi mba bebe yang gak bisa pulang sama sekali,, nangis tiap hari kalik ya 😛
    saling mendoakan ya mba bee,, semoga kita diberi ketabahan,, semoga ada hikmah dibalik semua ^^

    Reply

    1. Bébé

      Ahahahaha.. dulu sempet sih nangis tiap hari.. tapi liat suami jadi ga enak.. kayaknya kok keliatan nyesel gitu tinggal sama dia.. :unsure2:

      Aamiiiin.. Iya pasti ada hikmahnya nanti 😀

      Reply

  28. Fascha

    Semangat ya Bé… ! Kalo sekarang masih ada kangen2nya ama Indonesia, dijamin ntar pas di Indonesia pasti kangen ama Swedia loh 😀

    Reply

    1. Bébé

      Tackar Cha..
      Hahahaha.. iya itu juga udah kebayang sih. Sempet ngomong juga sama bubu.. “kalo aku pulkam, pasti kangen Swedia ga ya?” trus kata dia “pastilaaaaaah” hahahahaha.. ya abis rumahnya juga udah disini kan.. :yes:

      Reply

  29. fitri2boys

    semangat terus ya bebe…

    Reply

  30. yuni

    Wuaah…hebat be, udah bs sampe di stage 4! butuh brp thn tuh be? :thinking:
    Kl aku dijamin pst 2x lbh lama buat nyampe stage 4, scr orgnya susah bgt beradaptasi 😥

    Reply

    1. Bébé

      Hmmm… 3 tahun non-stop ga pulkam lah.. hihihi.. Kalo diputus2 pake pulkam pasti prosesnya lebih lama deh.. menurutku yaaaah..

      Hahhaa.. masaa? siapa tau malah cepet juga loh.. Tapi kayaknya juga aku emang tipe pasrahan sih.. :laugh:

      Reply

  31. Jeanette

    i can totally relate! uda hampir 10 tahun i lived outside from my home… eh tapi malah skrg jadi ga betah kalo pulang ke rumah sendiri hahahaha… cemungudh ya kakaaaa…. niscaya setelah Mibe tiba semuanya akan jadi lebih indahhh 😀 :banana3:

    Reply

    1. Bébé

      Hahahaha.. bisa gitu yaaah.. Aku juga ga tau nih ntar kalo udah pulang, betahan ato malah kangen pingin buru2 balik.. Ga kebayang juga soalnya.. hihihi..

      Aamiiin.. semoga yaaaaah.. :pray: :dreaming:

      Reply

  32. nophi

    aku donk kakak…
    cuma bukan LN sih.. LP alias Luar Pulau hihihihi…

    semangat ya kakak…..

    Reply

    1. Bébé

      Hihihi.. ayo sama2 berjuang ya Nop..
      Semangat jugaaa :gym:

      Reply

  33. lulu

    suka deh sama jawaban Bubu…menenangkan sekali…
    Be….setelah melewati semua jadi bener2 merasakan rumah itu dimana hatimu berada ya 🙂

    Reply

    1. Bébé

      Iya, jawabannya lempeng tapi dalem Luk.. hahaha..
      Bener lu.. walaupun prosesnya ga gampang ya.. 😀

      Reply

  34. siska

    Ngerasa jlebb banget baca postingan ini mbaaak, plus berasa ditampar… saya yang 2th-nan ini merantau sendirian yang cuma Jawa Timur ke Sumatera Barat aja berasa berat bgt… palagi mbak bebe yg ke LN yak 🙁 Ahh…saya masih stuck nih di step 2-3-2-3-2 masih bljr terus biar bisa legowo hehe

    Reply

    1. Bébé

      Waaa.. Gpp.. Tiap orang kan perjuangannya beda2 Sis.. Aku juga kalo lagi stress suka balik lagi ke step 2 kok.. Hahaha… 😉

      Reply

  35. Dinny

    Hi Bebe,
    Komen pertama nih setelah berbulan-bulan nguprekin rumahmu hehehee…
    Awalnya baca karena mo nyontek cerita pindah ke negara lain, dan ternyata tambah kesini kok tambah mirip ceritanya. Aku sekarang juga lagi punya ‘little bun in the oven’, baru masuk 4 bulan dan perkiraan lahir awal maret tahun depan. Masih jadi newbie di Perth sini, masih jumpalitan sama urusan dapur hahahaa… Anyway, teteup semangat yak! *hugs

    Reply

    1. Bébé

      Huaaa.. congrats yaaa.. semoga lancar terus hamilnyaa.. 😀

      Hihihi.. udah mulai bisa masak apa aja mba? ada resep yang bisa dibagi ga? 😉

      Yup, sama2 semangat yaaaah :yes:

      Reply

  36. Pungky

    Bebe pasti bisa, dengan dukungan Bubu dan kehadiran Mibe sebentar lagi! Setelah hampir 10 tahun ninggalin rumah dan 6 tahun terakhir hidup nomad, maksain dari fase 1 langsung loncat fase 4 aja deh, kalau gak gitu..yang ada bakalan stress mulu tiap pindahan.

    Reply

    1. Bébé

      Maaci Pungky.. Iya semoga bisa lancar terus ini, ga balik2 lagi ke fase 2-3-2-3 hahaha.. hahaha

      Waaaa… bagaimana caranyaaaa? berikan petuahmu supaya bisa langsung skip ke-4? :waat:

      Reply

      1. Pungky

        Saya lebih gampang krn kan nomad, ga bisa tau dr awal mau berapa lama tinggal di satu tempat jadi begitu dateng langsung hajar bleh, suka ga suka harus dinikmati hehe… Ga ada waktu untuk tahap 2-3. Kalo Bebe tantangannya pasti jauh lebih berat krn Swedia jd rumah seumur hidup ya? Blm kebayang jg kl suatu hari nanti menetap di negara suami…mungkin bakalan konsul sm Bebe deh ;p

        Reply

        1. Bébé

          Hahahaha.. malah gantian yaa?
          Tapi iya si, kalo nomad setidaknya agak sadar kalo ga lama tinggal disitu, bentar lagi juga pindah yaa.. 😀

          Reply

Why not leave a comment. It's free of charge :P