Dua Bahasa Untuk Jo (Part-2)

Ga kerasa, udah satu tahu berlalu aja sejak terakhir kali gue update tentang kemampuan berbahasanya Jo. Mumpung lagi mood dan pingin pamer tampilan blog yang baru dirombak total, numpang cerita-cerita tentang si kakak yaaa. Terakhir kali gue ngepost dengan tema dua bahasa ini, gue sedang dilema luar biasa. Haruskah lanjut terus menggunakan dua bahasa ke Jo atau lebih baik fokus ke salah satu. Penyebabnya tentu aja gue MERASA si Jo lambat...

Dilema dua bahasa

Mengajarkan Jo dua bahasa, Indonesia dan Swedia udah menjadi cita-cita gue sejak anaknya masih ada di dalam perut. Alasannya? Seperti yang udah pernah gue tulis di post ini, gue ingin Jo bisa berkomunikasi dengan keluarganya di Indonesia. Terutama sesepuh yaa, kayak Uti & Atungnya, trus nenek, kakek yang lain. Karena kesian aja kalau ke Indonesia trus anaknya cuma planga plongo ga ada yang bisa diajak ngomong, takutnya malah ga betah...

Dua bahasa untuk Jo

Karena baca artikelnya Rika di mamarantau jadi kepengenan nulis juga tentang hal yang sama.. Hihi.. Ini emang sukanya itut-itut aja ciiih.. Salah satu pertanyaan yang sering gue terima baik dari teman-teman di blog atau di dunia nyata adalah mengenai bahasa komunikasi yang digunakan antara kami berdua (Bebe & Bubu) dan Jo. Karena agak malas untuk mengulang jawaban yang sama terus-terusan, akhirnya gue putuskan untuk bikin post aja deh. Sekalian juga...