Cooking Diary: Menaklukkan Martabak Manis

Seminggu lebih ga ngeblog ternyata bikin otak buntu ya pas beneran kepinginan cerita. Udah 10 menit berlalu ngeliatin layar monitor tanpa ngerti mau nulis apa dan ujung-ujungnya malah buka online shop langganan dan mulai gritilan pingin belanja.. haaaaah.. *kekep dompet suami*.

But eniwei..

Martabak manis… oh martabak manis…

Sudah berkali-kali rasanya gue mencoba dan mencoba dan mencoba membuat jajanan yang satu ini tapi selalu aja hasilnya gagal melulu. Padahal sama juga seperti si Chiffon cake, pertama kali gue ngejajal bikin martabak manis ini gue menggunakan adonan setengah jadi dari Pondan. Dimana seharusnyaaaa hasilnya diharapkan berhasil dooong. But NOOOO.. saat itu adonannya ga bersarang dan kerasa banget bantetnya. Ugh.. Sejak itu udah beberapa resep martabak manis gue coba. Dari yang menggunakan ragi sampai ya ga sama sekali. Hasilnya? yaaaaah.. begitu lah.

The thing is, ga kayak chiffon cake yang gue masih rela bikin berulang-ulang meskipun bantet karena masih lumayan enak dimakan, martabak manis ini selalu menyebalkan kalau gagal. Udahlah ga bersarang yang bikin adonannya jadi padat dan keras, rasanya pun ga karuan bikin eneq kalo dimakan kebanyakan. So that’s why martabak ini menjadi proyek penasaran yang sangat gue tunda-tunda. Nunggu resep yang kiranya menjanjikan dulu barulah mau gue jajal.

Kesempatan pun datang dari salah satu teman gue yang sekarang lagi menetap di Australia. Kebetulan few months back gue sempet liat dia majang foto martabak manis di path-nya yang keliatan super kece. Mumpung lagi mood bikin kue tapi males baking, gue langsung nanya ybs akan resep yang dia pakai dan langsung diarahkan ke blog ini. Ngeliat bahan dan caranya keliatan gampang bener, resepnya langsung dijajal.

Continue reading →

Sixth time’s a charm

Oh yes..

Setelah menghabiskan mungkin lebih dari 30 butir telur, ratusan gram tepung dan gula, dan mungkin belasan jam mencoba dan mencoba dan mencoba dan mencoba dengan hasil penuh kegagalan. Kemarin, di percobaan yang ke-ENAM kalinya, gue berhasil menaklukkan salah satu cake paling menyebalkan (menurut gue, karena susah banget bikinnya), yaitu Chiffon Cake. Akhirnya ye booooookkkkk!!!!!!

chiffon-blog-04

Pada percobaan-percobaan sebelumnya, jujur gue ga tau apakah gue yang ngawur baca resep atau resepnya yang keliru itungan bahannya, atau gue salah ngaduk di bagian campuran terakhir (kocokan putih telur ke adonan kuning telur) atau mungkin temen-temennya Cinta yang salah *ugh lawas sekali becandaanya*, tapi seperti yang mungkin kalian sudah baca di post yang ini dan ini, hasil Chiffon Cake yang keluar dari oven gue selalu bantet dan hanya bagian atasnya aja yang ngembang (dikit).

Karena itulah ketika kemarin gue memutuskan untuk mencoba membuat Chiffon Cake lagi (tapi kali ini nyoba resep baru), gue masih sangat pesimis akan hasil akhirnya. I mean, kalau memang ternyata kesalahan gue terletak pada teknik yang gue gunakan, mau coba resep apapun tentu hasilnya pasti sama aja dong seperti sebelumnya. Ya ga? Apalagi baru aja 3 hari yang lalu gue menjajal bikin Chiffon Cake (dengan resep yang sama seperti percobaan yang lain) dan yah udah bisa diduga lah, gatot maning.. gatot maning. Jadi kali ini gue ga terlalu berharap banyak dan sekedar iseng-iseng aja. Mumpung lagi ada stok telur banyak banget yang dikasih ibu mertua wiken kemarin. Sayang kalo dianggurin gitu aja.

Continue reading →

13 jam tanpa Baby Jo

Setelah selama 15 bulan terakhir ga pernah jauh-jauhan sama si kecil, wiken ini akhirnya gue merasakan juga menghabiskan sehari penuh tanpa kehadiran si Jo di sisiku *haish*.

Kesempatan untuk ‘kabur’ sebentar hanya berdua suami ini datang dari acara tahunan Family Gathering kantornya Bubu — yang dimana tahun-tahun sebelumnya sudah pernah gue ceritakan di sini, sini dan sini. Sesungguhnya sih pada awalnya gue ga mau ikutan karena biasanya acara ini selalu diadakan jauh dari Helsingborg. Yah namanya juga pertama kali ninggalin anak pastilah bawaannya khawatir mulu. Tapi karena suami maksa gue harus ngikut, jadi ya sudahlah.. Aku nurut bapak’e aja deh. Daripada ntar ga dikasih uang jajan *loh* hahaha.

Sehari sebelum hari H ibu mertua yang berbaik hati mau ngejagain cucunya selama kami pergi datang ke Helsingborg supaya Jo bisa terbiasa dengan kehadiran farmornya. Malam itu pun kami sempat melakukan percobaan dimana Jo tidur bareng sama farmornya yang berakhir dengan sangat mengenaskan. Awalnya si Jo bisa tidur dengan lelap dipangkuan ibu mertua tanpa nyariin gue sama sekali. Tapi begitu dipindahin ke kamar, anaknya langsung bangun dan nangis jejeritan. Ga cuma gitu, si kecil juga mulai mondar mandir kesana kemari nyariin mamanya yang memang sengaja ngumpet di kamar. Karena satu-satunya ruangan yang dibiarkan tertutup hanya kamar tidur kami, pintunya pun digedor-gedor kencang plus ga lupa lengap dengan aksesoris air mata yang mengalir deras. Setelah beberapa lama melihat adegan penuh drama tersebut akhirnya ibu mertua nyerah dan minta gue untuk keluar karena ga tega ngeliat kondisi cucunya yang melas banget.

OK.. trus kalo begini bentuknya besok gimana dong ditinggal semaleman?

Continue reading →

Mengedit Tone Foto menggunakan PRESET Lightroom

Sudah dari beberapa waktu yang lalu teman-teman blogger meminta saya untuk membuat tutorial seputar edit foto. Sayangnya selain susah cari waktunya, saya sebenarnya agak ga pede kalau harus buat tutorial karena merasa belom jago-jago banget. Takutnya malah kayak the blind leading the blind yang ujung-ujungnya ngawur. Cuma setelah dipikir lagi, kayaknya gpp juga ya membagi ilmu sejauh yang kita tahu. So that’s why saya memutuskan untuk membuat tutorial edit foto ini.

Seperti yang udah tertera di judul, saya akan membagi sedikit info tentang cara menggunakan fitur PRESET di program Adobe Lightroom. Fitur ini selalu saya gunakan karena sangat mempermudah hidup ketika harus ngedit foto dengan jumlah banyak dan pinginnya semua seragam tonenya.

But anyway, Preset itu apa sih? Definisi detail dan tepatnya saya sendiri ga tau, tapi kalau menurut saya.. Preset adalah hasil setting editing — dari exposure, light, shadow, tone shadow, setting vignette, dll — yang direkam menjadi sebuah preset dan ketika kita mau menghasilkan foto dengan tone yang mirip atau serupa ga perlu mengubah dan memulai semua dari awal.

Salah satu hal menyenangkan dalam menggunakan Preset adalah filenya banyak banget tersedia secara gratis di internet. Cukup google dengan kata kunci “Free Lightroom Preset” maka akan keluar link-link website yang memberikan paket file preset secara cuma-cuma. Cara install Presetnya? No worries, akan saya tuliskan di bawah.

Hmm.. apalagi yaaa yang kira-kira perlu diomongin sebelum kita mulai tutorialnya.

Oh iya, saya belum jelasin tentang jenis file yang digunakan untuk mengedit.

Sepanjang pengalaman memakai Lightroom selama ini saya selalu menggunakan diantara 2 jenis file photo, yaitu JPG dan RAW. Tapi yang paling sering tentu file RAW. Kenapa? Karena file RAW itu benar-benar raw alias mentahan yang bisa dimanipulasi secara lebih detail dibandingkan file JPG. Dari setting white balance, exposure dll semua bisa diganti sesuai kebutuhan. Plus minus file RAW vs JPG bisa dibaca lengkap di internet. Tapi tentu saja ga semua kamera bisa menghasilkan file RAW, jadi mengedit file JPG pun tentu masih bisa cuma harus bekerja lebih keras dalam mengeditnya.

Continue reading →

Si bibir merah

Sebagai orang yang mengaku ga bisa dandan dan selalu lupa pake lipstik, jumlah lipstik yang sekarang tergeletak di dalam pouch kosmetik gue sangat amat bertentangan dengan statement yang gue tulis tadi. Karena semenjak post yang gue link di atas dipublish, koleksi lipstik gue sudah beranak pinak dan rekornya saat ini adalah 8 buah lipstik sudah saya miliki.

lipstik

yang satu lagi ketinggalan di foto

Why so many?? Ngapain sih punya lipstik banyak bener padahal bibir juga cuma punya dua??? (ini juga sebenernya pertanyaan suami ketika tau gue beli lipstik -lagiii) hahahaha..

Meskipun dulu gue nge-claim kalau lipstik adalah salah satu alat kosmetik yang suka lupa dipakai ketika keluar rumah tapi gue selalu penasaran aja kalau liat foto-foto beauty blogger yang ngereview produk-produk lipstik, lipbalm, lip stain, dll kok bisa cakep-cakep banget hasilnya. Belum lagi beberapa teman blogger juga suka pasang foto LOTD alias Lipstik of the day mereka di IG *lirik Ira & Nisa* dengan warna-warna cerah menyala yang serius deh bikin empunya foto keliatan kece bener.

Trus aku kan pingin keliatan kece jugaaa..

Continue reading →

Cooking Diary: Muffin Keju

muffinkeju-02-blogNampaknya akhir-akhir ini gairah gue untuk balik ngacak-ngacak dapur dan baking mulai muncul lagi karena tiap hari pasti gatel pingin nyoba resep ini itu. Setelah sebelumnya ngejajal resep Classic Cheesecake yang agak gosong, jatuh bangun dikerjain Chiffon Cake setengah bantet dan akhirnya berhasil menaklukkan NY Cheesecake, kali ini gue memilih Muffin Keju yang gampang dan bahannya juga ga mahal-mahal banget.

Continue reading →

[My so-called review] The Avengers: Age of Ultron

Dari semua tokoh superhero yang muncul di layar cinema, hanya satu yang menjadi idola abadi gue, yaitu the awesome Tony Stark a.k.a Iron Man. Sejak Iron Man muncul untuk pertama kalinya di tahun 2008 lalu, hatiku langsung kepincut mati-matian sama tokoh Tony Stark ini. Bukan cuma karena faktor Robert Downey Jr-nya (yang sudah masuk ke dalam daftar aktor kecengan Bebe sepanjang masa) tapi sebagai karakter, Tony Stark itu lovable banget. He’s funny, he’s smart, kinda (ok, maybe a lot) narcissistic and has an ego the size of texas, but he’s extremly hot too.. LOL.. Film-filmnya pun menurut gue salah satu film superhero terkeren diantara ratusan film superhero lainnya (kecuali yang ke-3.. kalo yang itu agak hmm.. naaah.. yaaa gitulah). So no wonder lah ya kalau gue bisa nonton Iron Man I & 2 sampai belasan kali. Karena faktor Iron Man itu pula gue sangat tertarik untuk mengikuti franchise The Avengers. Apalagi karakter Iron Mannya tetap dipegang oleh om RDJ tersayang, ga seperti Hulk yang diganti dari sebelumnya Edward Norton menjadi Mark Ruffalo. 

Film pertama The Avengers dirilis tahun 2012 yang lalu and I loved it (review lengkapnya ada di post yang ini), jadi ketika keluar sekuelnya, ga pake lama gue langsung ngajak suami untuk nonton bareng di bioskop. Alhamdulillah ibu mertua bersedia datang ke Helsingborg untuk ngejagain Jo selama kami pergi, so tanpa banyak bakbikbuk, mari kita nonton Bu!!

trailer The Avengers: Age of Ultron from Marvel Entertainment’s Youtube Channel

Continue reading →

Cooking Diary: New York Cheesecake

Dalam rangka ingin muv-on dari yang namanya Chiffon cake (yang sudah dicoba sampai 4x dan masih gagal terus, hiks), wiken kemarin gue mengajukan proposal beberapa resep kue ke Bubu untuk dicoba. Kenapa harus lewat Acc bapak suami dulu? Karena doski juga yang akan membantu ngabisin hasil kue yang gue bikin. So untuk membalas jasanya mau menerima (hasil kue)-ku baik yang sukses maupun yang bantet, the least I can do is to let him choose which cake to make.

Ada 3 pilihan kue yang gue layangkan ke bapak suami, yaitu Oreo Brownie, Chocolate Swirl Cheesecake dan yang terakhir New York Cheesecake. Dan bapak Bubu memiliiiiih… New York Cheesecake. Woohoo!! Pilihan yang sangat tepat karena sejak nyoba bikin classic cheesecake terakhir kali gue udah bercita-cita pingin ngejajal NY Cheesecake ini juga.

chizkek-0a-blog

Resep yang gue pilih untuk percobaan perdana ini adalah sebuah resep NY Cheesecake dari website salah satu celebrity chef-nya Swedia yaitu Leila Lindholm. I loove Leila’s cooking/baking show karena selain cara dia ngejelasin step-by-step pembuatan kuenya sangat jelas dan informatif, alat-alat yang dipakai juga lucu dan bikin kepingin *ngelirik kitchen aid warna pastel yang selalu ada di setiap episode*. Selain itu di resepnya ini si chef juga menulis kalau hasilnya dijamin enak dan cara buatnya pun gampang. Hmm… baiklah.. mari saya — si-baker wannabe — membuktikan apakah claim chef Leila tadi benar adanya.

Continue reading →