Trying out Open-Preschool

Keputusan untuk tidak memasukkan Jo ke dågis atau yang biasa disebut pre-school sebenarnya selalu membuat gue merasa dilema. Di satu sisi dengan kondisi gue yang sedang hamil dan memang berencana menunda keinginan untuk sekolah atau cari kerja membuat gue berada full di rumah aja. Dengan itu tentunya Jo masih bisa gue handle tanpa perlu menitipkannya ke dågis. Ditambah lagi dari sisi melankolisnya, gue menganggap masa-masa ini adalah saat gue bisa main sama Jo berduaan tanpa diganggu adiknya nanti. Tapi di sisi lain, gue juga kepingin Jo merasakan main dan berkomunikasi dengan anak-anak sebayanya. Kesian juga tiap hari ketemu emaknya lagi, emaknya lagi. Diomelin pula kalo udah mulai riweh.

Sebagai jalan tengah akan kondisi yang kami jalani, kami memutuskan untuk mencoba membawa Jo ke Öppen Förskola alias open preschool. Open Preschool ini pada intinya sih tempat bermain anak. Orangtua yang berniat bisa datang kapan aja pada waktu yang ditentukan (ga perlu daftar terlebih dahulu) dan selama anaknya bermain (anaknya ga boleh ditinggal), orang tua bisa ngobrol dengan orang tua lainnya. Well.. konsepnya sih begitu.. Hihihi..

Dan hari ini pun kami memulai hari pertama kami mencoba open preschool…

Kebetulan ga jauh dari rumah ada sebuah sekolah yang dimulai dari tengah hari. Setelah ganti baju dan siap-siap, gue dan Jo berjalan menuju ke sekolah dengan hati deg-degan (yah setidaknya emaknya.. hihihi). Sampai di lokasi dan masuk ke ruangan bermain, seisi kelas sudah banyak ibu dan anak berkumpul di sudut masing-masing. Ga lama salah satu guru pun menyapa kami dan langsung mempersilahkan kami berdua untuk bergabung. Oh iya, open preschool ini biayanya.. gratis. Asik yaaah..

Continue reading →

The Story of the Pinky Party

Ga terasa, udah satu tahun berlalu sejak perayaan ulang tahun pertamanya neng kecil. Tahun ini sebenarnya kami ga berniat sama sekali bikin pesta besar seperti tahun lalu. Alasannya? zuzur.. karena kami malas.. hahahaha. Tapi ketika kami mau mengundang keluarga inti untuk makan-makan sederhana dan pas diitung-itung ternyata orangnya lumayan banyak, kami baru sadar kalau apartemen kami ini ga cukup untuk menampung jumlah tamunya. Jadi supaya semua bisa masuk dan duduk dengan nyaman, kami pun memutuskan untuk menyewa kembali ruangan serba guna yang tahun lalu kami pakai. Berhubung udah sampe nyewa tempat segala, jumlah undangan pun akhirnya ditambah sedikit. Beberapa teman terdekat kami beserta keluarganya juga masuk ke dalam daftar tamu. Dan pada akhirnya kami memutuskan untuk membuat pesta juga deh.. LOL

Karena pesta ini agak telat niatnya, persiapan yang kami lakukan juga baru mulai dikerjain sekitar seminggu sebelum hari H. Ga ada lagi lah sibuk-sibuk desain undangan atau pernak pernik ini itu. Cukup bikin banner (supaya ramean dan terlihat niat sedikit), siapin balon dan peralatan makan, dan semua pun siap.

jo-bday-08

Desain banner ngikutin tahun lalu cuma motif dan warna aja yang diubah

Continue reading →

Our Trip to Germany 2015: Wonderful day at Miniatur Wunderland

MW-01a

Holaaaa… kembali ke cerita jalan-jalan kami ke Hamburg bulan Juni 2015 lalu. Ini udah telat banget yaaaah?? Ho’oh I know. Waktu pulang dari Hamburg sebenernya berniatan mau cerita. Tapi biasa deh, baru mau nulis aja keburu males. Setelah itu keburu kami pulang kampung dan begitu balik ke Swedia keburu lupa. Nah sekarang mumpung inget dan udah ngedit-ngedit fotonya, mari jalan-jalan bersama ke Miniatur Wunderland…

Jadi, seperti yang udah gue ceritakan di post terdahulu mengenai perjalanan kami ke Hamburg, kami ga punya itinerary khusus selama berada di sana. Yang penting jalan-jalan keliling kota aja sekuat kaki ini melangkah. Tapi walaupun tanpa arah yang jelas, ada satu tempat yang udah gue rekues ke suami untuk dikunjungi, yaitu Miniatur Wunderland ini. So, di hari Minggu yang mendung kami bertiga pun berjalan-jalan ke sana.

Tapi… Miniatur Wunderland itu tempat apa siiih?

Well.. secara singkatnya sih MW adalah tempat eksibisi miniatur jalur-jalur kereta. Tapi yang bikin istimewa adalah tingkat kedetailan dari diorama di sekitar trek kereta apinya itu. Lebih jelasnya mungkin bisa dilihat contohnya di foto di bawah ini:MW-03a

those details… tjakep banget yaaaa

Continue reading →

5 Movies I watched waaaaaaaay too many times

Rasanya semua orang punya listnya masing-masing akan film favoritnya sepanjang masa. Gue sendiri cukup punya beberapa film favorit dan ga segan juga menontonnya berkali-kali. Tapi setelah gue renungi dan pikirkan secara mendalam, ternyata film-film yang selama ini gue tonton berulang-ulang ga selalu film yang memang gue suka pake banget. Ada juga beberapa yang ketonton lebih dari 2-3x karena terpaksa.

Pada post ini gue ingin berbagi 5 buah judul film yang sudah gue tonton waaaaay too many times..

* * Frozen * *

Frozen-movie-wallpapers-7

Credit: Disney

Ok, untuk film pertama ini sepertinya gue punya cukup banyak teman sepenanggungan. Terlebih jika orang tersebut memiliki anak-anak kecil yang terkena deman Frozen semenjak filmnya dirilis beberapa tahun yang lalu. Di rumah kami pun sejak Jo kenal Frozen untuk pertama kalinya, ga kurang dari 15-20x film ini udah diputar secara terus menerus. Rekornya sempat sehari 3x dipasang supaya anaknya senang. Setelah gue putuskan untuk berenti nonton Frozen karena bosen (sumpeeeh deh, kok bisa anak-anak ini ga bosen yaaaa), ga berarti “penderitaan” gue berhenti sampai di sana. Klip lagu “Let it Go” masih menjadi rekues andalan si kecil (selain klip lagu Para Pam-nya Pororo) tiap kali liat ibunya duduk di depan komputer. Naga-naganya sih sampai beberapa tahun ke depan lagu Eigooo akan terus berkumadang di rumah kami. Cuma kalau liat tingkahnya si kecil ngikutin gerakannya Elsa dengan tangan kesana kemari, jadi meleleh lagi lah mamanya.

Continue reading →

When things wasn’t as simple as it seems

Hari ini gue memulai hari dengan sebuah rencana yang berbeda dari biasanya, yaitu ingin menyempatkan diri untuk pergi ke pusat kota dan membeli tempe di toko Asia. Bumil ngidam tempe & tahu bacem soalnya. Rencana yang simpel sekali kan? Secara teori sih sangat amat mudah. Kebetulan sekali toko asia yang dimaksud terletak di tengah-tengah kota dan  bus yang kami tumpangi haltenya ada di depan rumah dan berhenti persis di depan tokonya. Jadi benar-benar door-to-door delivery lah. Karena kondisi tersebut plus kenyataan kalau tokonya sendiri sempit & ga stroller friendly, akhirnya gue memutuskan untuk jalan tanpa stroller aja. Daripada ribet sama stroller plus bocah, aku memilih ribet sama bocah aja.

Perjalanan menuju toko Asia berjalan relatif lancar. Meskipun sempat ada insiden lift apartemen mati mendadak di tengah-tengah untuk beberapa detik ketika isinya hanya kami berdua, kami berhasil sampai berdiri di halte persis ketika busnya sampai. Selama perjalanan bus sampai ke depan toko Asia juga Jo duduk manis tanpa insiden pundung atau tantrum sama sekali.

Selesai membeli tempe dan beberapa kebutuhan lainnya, gue memutuskan untuk mampir sebentar ke apotek mumpung kami sudah ada di tengah kota. Keputusan ini tentu berdasarkan pengamatan gue akan kekuatan si kecil juga. Setelah melihat dia bisa bolak balik naik bukit dan lari kesana kemari sembari narik-narik kereta saljunya selama satu jam penuh, gue rasa jalan 250 meter aja mah cincai lah yaaa.

Dan ternyataaaa… penilaian gue salah total.. HAAAAAAH

Continue reading →