[My so-called review] The Avengers: Age of Ultron

Dari semua tokoh superhero yang muncul di layar cinema, hanya satu yang menjadi idola abadi gue, yaitu the awesome Tony Stark a.k.a Iron Man. Sejak Iron Man muncul untuk pertama kalinya di tahun 2008 lalu, hatiku langsung kepincut mati-matian sama tokoh Tony Stark ini. Bukan cuma karena faktor Robert Downey Jr-nya (yang sudah masuk ke dalam daftar aktor kecengan Bebe sepanjang masa) tapi sebagai karakter, Tony Stark itu lovable banget. He’s funny, he’s smart, kinda (ok, maybe a lot) narcissistic and has an ego the size of texas, but he’s extremly hot too.. LOL.. Film-filmnya pun menurut gue salah satu film superhero terkeren diantara ratusan film superhero lainnya (kecuali yang ke-3.. kalo yang itu agak hmm.. naaah.. yaaa gitulah). So no wonder lah ya kalau gue bisa nonton Iron Man I & 2 sampai belasan kali. Karena faktor Iron Man itu pula gue sangat tertarik untuk mengikuti franchise The Avengers. Apalagi karakter Iron Mannya tetap dipegang oleh om RDJ tersayang, ga seperti Hulk yang diganti dari sebelumnya Edward Norton menjadi Mark Ruffalo. 

Film pertama The Avengers dirilis tahun 2012 yang lalu and I loved it (review lengkapnya ada di post yang ini), jadi ketika keluar sekuelnya, ga pake lama gue langsung ngajak suami untuk nonton bareng di bioskop. Alhamdulillah ibu mertua bersedia datang ke Helsingborg untuk ngejagain Jo selama kami pergi, so tanpa banyak bakbikbuk, mari kita nonton Bu!!

trailer The Avengers: Age of Ultron from Marvel Entertainment’s Youtube Channel

Continue reading →

Cooking Diary: New York Cheesecake

Dalam rangka ingin muv-on dari yang namanya Chiffon cake (yang sudah dicoba sampai 4x dan masih gagal terus, hiks), wiken kemarin gue mengajukan proposal beberapa resep kue ke Bubu untuk dicoba. Kenapa harus lewat Acc bapak suami dulu? Karena doski juga yang akan membantu ngabisin hasil kue yang gue bikin. So untuk membalas jasanya mau menerima (hasil kue)-ku baik yang sukses maupun yang bantet, the least I can do is to let him choose which cake to make.

Ada 3 pilihan kue yang gue layangkan ke bapak suami, yaitu Oreo Brownie, Chocolate Swirl Cheesecake dan yang terakhir New York Cheesecake. Dan bapak Bubu memiliiiiih… New York Cheesecake. Woohoo!! Pilihan yang sangat tepat karena sejak nyoba bikin classic cheesecake terakhir kali gue udah bercita-cita pingin ngejajal NY Cheesecake ini juga.

chizkek-0a-blog

Resep yang gue pilih untuk percobaan perdana ini adalah sebuah resep NY Cheesecake dari website salah satu celebrity chef-nya Swedia yaitu Leila Lindholm. I loove Leila’s cooking/baking show karena selain cara dia ngejelasin step-by-step pembuatan kuenya sangat jelas dan informatif, alat-alat yang dipakai juga lucu dan bikin kepingin *ngelirik kitchen aid warna pastel yang selalu ada di setiap episode*. Selain itu di resepnya ini si chef juga menulis kalau hasilnya dijamin enak dan cara buatnya pun gampang. Hmm… baiklah.. mari saya — si-baker wannabe — membuktikan apakah claim chef Leila tadi benar adanya.

Continue reading →

Our messy weekend: Playing with Homemade Fingerpaint

Jujur, terkadang gue ngerasa kami ini sebagai orang tua agak kurang kreatip dalam mencari kegiatan/permainan yang merangsang perkembangan si kecil. Seringnya kami biarin Jo main sendiri, explore sana sini ini itu sementara kami berdua hanya mengawasi. Yah well kalau soal niat sih sebenernya udah setinggi langit. Gue rajin baca berbagai macam tips-tips dan contoh permainan di website parenting, ga lupa bikin list kegiatan apa aja yang sekiranya cocok sama umurnya Jo. Tapi yah apa daya, begitu saatnya eksekusi langsung kebanyakan malesnya.

Ga mau terus-terusan malas wiken kemarin gue ngajak Bubu untuk mencoba salah satu kegiatan seru yang udah lama banget pingin gue lakukan di rumah, yaitu bermain fingerpaint bareng baby Jo. Katanya sih permainan ini bisa membantu perkembangan sensoriknya si kecil plus kami juga bisa sekaligus memperkenalkan perbedaan warna ke neng manis. Ditambah lagi I just love playing with paint.. hahaha. Yaabis nama juga harus nemenin si kecil main kan.. haruslah gue pilih kegiatan yang setidaknya menyenangkan untuk gue juga *mama egois* hehehe.

Masalahnya si Jo ini lagi suka banget masukin semua barang ke mulutnya. Liat kertas, masukin mulut. Pegang sepatu.. masuk mulut. Jempol kaki emaknya pun juga kadang-kadang mau diemut. Karena itulah kalau gue mau nyoba main cat haruslah bahan catnya alami dan gapapa kalau dimakan bayi. Artinya? Paling aman ya bikin sendiri deh.

Seperti biasa kalau udah urusan nyari-nyari contekan begini pastilah gue beralih ke eyang google dan benar aja ketemu lumayan banyak alternatif homemade fingerpaint dengan bahan dasar yang berbeda-beda. Ada yang yogurt based, pudding based dan yang terakhir… cornstarch based. Gue pun memilih bahan yang terakhir karena selain semua bahan udah tersedia di rumah, konsistensinya catnya lebih kental dibanding pakai yogurt dan warnanya juga lebih vivid.

Continue reading →

The Kitchen War

Beberapa hari yang lalu Bubu sempat bercerita ke gue tentang komentar salah satu koleganya mengenai makan siang yang Bubu bawa. No, bukan karena sang kolega merasa aneh si Bubu kok bawa makan siang dari rumah (kalau itu mah memang udah kebiasaan sehari-hari orang sini supaya ngirit uang makan siang kebanyakan membawa bekal dari rumah), tapi menu makanannya lah yang mengundang pertanyaan dari si kolega. The thing is menu Bubu hari itu adalah makanan yang super Swedish sekali yang amat sangat jarang gue buat. Jadi pas liat menunya, sang kolega langsung menebak “ibu kamu datang ya wiken kemarin?” dan ofkors tebakannya sangat tepat sasaran. Wiken sebelumnya memang kami kedatangan ibu mertua dan adek suami. Semenjak ada Jo memang jadi lebih sering beliau yang datang daripada kami yang ke Malmö karena rumah kami lebih childproof. Maklum bocahnya udah gritilan semua diacak-acak. Seperti biasa setiap main ke rumah, ibu mertua selalu bawa stok makanan yang buanyaaaaak banget untuk kami berdua yang biasanya kami simpan di freezer sebagai cadangan kalau nyonyah Bebe lagi males masak. Selain itu ibu mertua juga selalu menawarkan diri untuk membuat makan malam ketika beliau berkunjung yang dimana 80% of the time tawarannya kami terima. Sisa 10% biasanya gue yang masak dan 10% lainnya kami beli makan di luar. Mendengar penjelasan dari Bubu si kolega balik bertanya lagi “memang istri kamu ga keberatan ibu kamu yang masak kalau lagi di rumah?” yang dijawab Bubu dengan muka aneh “why should she be upset about it?”. Ternyata jika skenario yang sama terjadi di rumah sang kolega, biasanya akan terjadi sedikit ketegangan antara istri dan ibunya si kolega.

Hmmm begitu toh..

Di sini gue ga akan berkomentar tentang hubungan sang istri kolega dan ibu mertuanya. Gue ga tau sejarah hubungan mereka gimana, tradisinya seperti apa, dan lain-lain. Takut malah jatohnya su’udzon ajah. Gue cuma mau cerita alasan kenapa kok gue santai-santai aja dengan ibu mertua masakin kami di rumah.

Continue reading →

Superman is back

Waktu awal pindah ke Swedia, melihat bapak-bapak muda sibuk main sama bayinya di cafe atau asik dorong stroller sendirian di tengah kota tanpa ditemani pasangan adalah sebuah pemandangan yang asing nan menakjubkan buat gue. Entah gue yang ga gaul atau mungkin kurang piknik, tapi disekitar gue dulu jarang aja gitu ada bapak-bapak yang turun tangan langsung ngurusin bocah piyik tanpa bantuan siapa-siapa. Tugas ngurus anak seringnya by default menjadi tanggung jawab sang ibu, sementara bapaknya sibuk kerja di kantor. Gue sendiri walau bisa dibilang cukup dekat sama bokap ternyata juga tumbuh di lingkungan yang kurang lebih begitu juga sistemnya.

Mungkin karena latar belakang dan lingkungan gue dulu, sekarang setiap kali ngeliat adegan-adegan mesra antara bapak dan anak hati ini rasanya hangaaaaat banget. Apalagi setelah punya Jo gue jadi melihat sendiri betapa susahnya membangun bonding antara ayah dan anaknya. Butuh niat, usaha dan konsistensi secara terus menerus, terutama dari sang bapak. Some people might lucky enough punya anak yang bisa langsung nempel sama bapaknya. Atau kebalikan, bapaknya yang langsung nempel sama anaknya. Tapi untuk sisanya, Perlu usaha keras dulu untuk mendapat hasil yang serupa.

Dan mungkin karena alasan itu juga mengapa gue jadi suka banget sama salah satu reality/variety show Korea yang satu ini, yaitu The Return of Superman (atau Superman is back). Inti acaranya adalah memperlihatkan bagaimana para ayah (biasanya 1 season ada 4 orang) yang semuanya selebriti (baik itu musisi, aktor, komedian, petarung profesional) yang harus mengurus anak(anaknya) sendirian selama 48 jam tanpa bantuan siapa pun. No wife, no manager, no personal assistant. Only the father and the kid(s). Ya tentu supaya seru kadang muncul beberapa bintang tamu selebritis yang ‘membantu’ si ayah. Tapi tetep kebanyakan interaksinya hanya antara bapak dan anak aja. 

Continue reading →

Everyday is a fashion show

“Everyday is a fashion show and the world is the runway”~Coco Chanel

Sepertinya quote by the famous Coco Chanel di atas cukup mendiskripsikan cara gue ngedandanin Jo sehari-hari.

Sebagai seseorang yang mengaku buta trend baju dan ga modis sama sekali, gue sebenarnya mempunyai ketertarikan yang cukup lumayan akan dunia fashion. Jauh sebelum gue bercita-cita pingin kerja di Pixar (yang akhirnya menuntun gue untuk ngambil jurusan Desain Grafis), gue sempat bermimpi bisa berkarya di dunia kreatif sebagai fashion designer (or fashion stylist). Tapi dasarnya emang ga bakat dan seperti yang gue bilang dulu, trend and mix-matching confuse me, akhirnya dengan berat hati gue harus melepaskan cita-cita gue tersebut.

Walau gue sadar memang ga punya talent dalam mendandani banyak orang (atau mungkin diri sendiri? :P) bukan berarti gue ga bisa tetep nekat kekeuh pingin jadi nyoba ekting sebagai fashion stylist gitu kan? Apalagi sekarang gue punya neng kecil yang tak berdaya, yang bisa dipakein baju apa aja tanpa protes. Yup.. sehari-harinya si Jo memang selalu menjadi korban gue dalam mencoba mempadu-padankan beberapa style baju yang gue ga berani coba sendiri.  :muhaha:

baju-jo

hellow yellow

Continue reading →

Park Hopping & Chiffon Cake (lagiiii?)

Dalam rangka proyek penghematan dana secara maksimal demi masa depan yang indah *haish*, liburan paskah yang biasanya kami rayakan dengan jalan-jalan di sekitar propinsi Skåne, tahun ini ditiadakan dan diganti di sekitar rumah aja. Kebetulan di sekitar tempat tinggal kami ini banyaaaaaak banget taman-taman dengan berbagai ukuran yang sayangnya jarang kami kunjungi di hari biasa. Mumpung weekend kemarin cuaca mendukung dan si neng kecil sekarang mulai mandiri bisa jalan sendiri, jadi pingin aja ngajak Jo berpetualang menjelajahi tempat baru. Kesian juga dikekep terus di rumah sehari-harinya. Berhubung kami sedang sibuk berhemat, budget liburan kali ini kami usahakan seirit mungkin. Tanpa mobil atau naik bus, untuk mencapai tujuan kami memutuskan untuk berjalan kaki saja (Bebe & Bubu yang jalan  kaki, kalo neng Jo mah santai duduk di stroller).

Talking bout kekeuh bener pingin ngirit seirit-iritnya yaaaah.. hahahaha

Di hari pertama liburan alias hari Jumat, kami bertiga pergi ke taman dekat rumah untuk foto-foto sembari membiarkan Jo main sama papanya. Lokasi taman ini ga terlalu jauh, hanya 600 meter aja dari apartemen. Cukup untuk pemanasan sebelum besok harinya berjalan lebih jauh. Kebetulan di sana ada tempat bermain anak-anak yang cukup terawat dan lapangan rumput yang seringnya kosong. Si kecil bisa bebas lari-larian puas tanpa takut ketabrak-tabrak orang atau kena bola nyasar.

taman.1

Keesokan harinya kami melanjutkan misi berjalan kaki dengan pergi ke supermarket langganan yang jaraknya sekitar 5 KM (one way) dari rumah. Biasanya kami kesana selalu menggunakan mobil atau bus tapi kemarin Bubu dengan riang gembira mengusulkan sebaiknya kami jalan aja sembari olah raga menikmati mentari dan cuaca yang cerah. FYI, jika menggunakan mobil tempat ini dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 5 menit. Naik bus agak sedikit lebih lama karena tergantung jadwal busnya. Kalau jalan kaki kira-kira berapa menit?  40 menit aja doooong. Hiks. Udahlah pas selesai belanja sang suami lagi-lagi ngajakin istrinya ini jalan kaki ke rumah. Alasannya saat itu “nunggu bus juga lama Be, mending kita jalan aja deh. Pasti sama sampenya” yang dengan berat hati harus gue setujui. Nama juga hari libur besar, frekuensi bus yang lewat jarang-jarang. Dan akhirnya kami pun berjalan (kaki) pulang dengan hati riang (aish yakin beneran riang Be? hahaha).

Continue reading →

PaBu’s & Jo’s Moments

Akhir-akhir ini nona kecil lagi terkena sindrom “mama-aku-maunya-nempel-sama-mama-aja-24-jam-sehari” alias nemplok mulu sama emaknya ga mau lepas. Ga paham juga fase ini muncul dari mana dan apa penyebabnya (mungkin memang lagi pas umurnya begitu ya?), cuma hal ini cukup membekas perih di hati papa Bubu yang setiap kali nyoba gendong anaknya atau ajak main ketika gue menghilang sebentar ke goa (kamarnya Jo) untuk ngedit foto atau browsing (read: online shopping, LOL), eh anaknya malah nangis jerit-jerit pilu sembari gedor-gedor pintu kamar tempat gue bersembunyi.

Karena itulah, dalam rangka usaha mempererat hubungan kedua orang terfavorit gue ini, hari Jumat kemarin kami bertiga jalan-jalan ke taman dekat rumah untuk main dan menikmati waktu liburan bersama. And it seemed like the universe was on my side, because even tho it was a bit cold (8-10°C only) but the sun shone so bright and warm. Perfect for being out and play.

Continue reading →