The London Trip: All About The London Pass

Menggunakan fasilitas kartu city pass ketika mengunjungi sebuah kota untuk pertama kalinya sudah menjadi salah satu kebiasaan kami berdua sejak nikah. Pertama kali kami berkenalan dengan tipe kartu seperti ini adalah saat liburan perdana kami ke Berlin tahun 2011 lalu. Waktu itu kami merasa WelcomeCard Berlin & Tiket Museum Island yang kami beli sangat-sangat worth the money banget dan semenjak itu setiap kali liburan kami pasti nyari info tentang kartu yang sama. Sejauh ini sih selain WelcomeCard Berlin, kami sudah pernah menggunakan kartu GO dari kota Gothenborg dan Stockholm Card di wilayah Swedia dan Paris Museum Pass untuk wilayan Eropa.

Karena itulah, begitu rencana liburan ke London kemarin sudah fix, kami berdua langsung cari info tentang London Pass. Apalagi gaya liburan kami yang emang sukanya mengunjungi objek wisata mainstream cocok banget dengan tujuan kartu ini, yaitu memberi diskon sebanyak mungkin ketika menikmati tempat-tempat turis di kota London.

Harga London Pass sebenernya sih ga bisa dibilang murah juga. Bisa dipilih berdasarkan jumlah hari, price rangenya dimulai dari £59 untuk 1 hari, hingga £159 untuk 10 hari. Selain itu masih ada pilihan kartu yang berlaku 2, 3 dan 6 hari. Mihil yaaaks? Tapi yaaaa.. harga tiket masuk ke berbagai tempat turis di London emang mahal-mahal bookk, jadi ga mungkin juga London Passnya tiba-tiba jauh lebih murah.

Well eniho, kami sendiri akhirnya memutuskan untuk membeli London Pass setelah sibuk itang-itung kira-kira total pengeluaran jika menggunakan atau tanpa passnya. Kami memesan 2 buah kartu yang berlaku 3 hari plus sekalian kartu Oyster TravelCard untuk berkeliling di kota London menggunakan tube dan bus. Harga yang kami bayarkan adalah £113.50/orang sudah termasuk diskon 15% yang ditawarkan oleh website London Pass dan kartu Oyster TravelCard dengan nominal £25 (bisa diisi ulang di stasiun jika kurang). Ketika akan membeli tiket di website resmi London Pass, gue diberikan 2 pilihan. Mengambilnya di London atau dikirim langsung ke Swedia. Berhubung malas kalau harus jalan ke tengah kota dulu untuk mengambil kartu, kami pun memilih yang dikirim aja ke Swedia. Biayanya nambah lagi sekitar £7.95. But atleast begitu sampai London, kami sudah langsung bisa menggunakan kedua kartu tersebut.

Continue reading →

About these ads

The London Trip – The Ibis Shepherd’s Bush Hotel Review

Disclosure: Review ini bukan review berbayar. Semua biaya yang dikeluarkan selama menginap merupakan pengeluaran pribadi kami dan pendapat yang ada di post ini juga hasil pengalaman dan opini kami sendiri. We’re a happy costumer yang pingin berbagi pengalaman selama menginap di sana karena ketika gue browsing tentang hotel ini, susah banget cari reviewnya kecuali di Tripadvisor.

# # # #

Mencari hotel yang sesuai budget kami selama berliburan di London bulan Mei kemarin adalah salah satu tugas terberat yang harus gue emban. Abis seperti biasa lah, penyakit budget pas-pasan tapi pengennya banyak. Ya pasti susyeh untuk dapat semua yang gue kami inginkan. Kalo berdasarkan kepengenan siiih, gue maunya lokasi tengah kota (zona 1) tapi hotelnya juga yang setidaknya nyaman. Cuma realita tentu aja ga selalu berpihak sama bumil ini. Harga-harga hotel tengah kota pastinya muahal pake banget. Bahkan yang sekelas budget hotel kayak grup Tune juga harganya bikin elus-elus dada. Sempet ngelirik airbnb, eh ga ketemu yang sesuai budget karena kebanyakan yang full unit 1 apartemen harganya 11/12 sama harga hotel. Jadi yaaah sudahlah, sadar diri saja, gue pun melebarkan pencarian ke zona 2.

Kebetulan semenjak nginep di Hotel Mercure di Bandung pas pulkam tahun lalu, gue sekalian jadi member Accor Hotelnya juga. Pas lagi liat-liat list hotel grup Accor di websitenya, ketemulah sebuah hotel yang berhasil menarik perhatian hati. Hotelnya bernama Ibis Shepherd’s Bush. Dan kami super puaassss banget tinggal di hotel ini selama 6 malam kami di London.

Continue reading →

The Second Time Around… (part-2)

Minggu ini, kalau menurut aplikasi What to Expect yang gue install di hape, gue sudah memasuki usia kandungan minggu ke-37. Yang artinya hanya dalam waktu 2-3 minggu, InsyaAllah si dedek kecil memutuskan untuk bertemu kami bertiga. Dan lagi-lagi, semakin mendekati hari H lahiran, makin keliatan pula betapa berbedanya pengalaman hamil gue yang kedua ini dibanding saat mengandung Jo dulu… Berikut beberapa ceritanya…

* * * *

Perjalanan mencari nama…

Dulu waktu mencari nama neng Jo, prosesnya bisa dibilang ribet dan penuh mind games sekali.. LOL. Seperti yang gue pernah ceritain dulu, nama belakang Bubu itu cukup ajaib nan unik yang bikin ga semua nama bisa matching manis kalau dipadu padankan. Makanya ketika kami dapet kesempatan USG kedua dan diberitau dokter kalau si dedek kemungkinan besar perempuan, tentu aja kami berdua langsung pusing kepala. No, bukan karena kecewa ga dapet anak cowok. Kalau itu sih kami mikirnya sama aja lah, ga ngaruh mau perempuan atau laki-laki, tetep bikin sakit kepala ngegedeinnya hahaha.. Masalahnya kalau anak cowok, kami masih punya pilihan nama yang ga kepake dari sejak hamil Jo dulu. Nah ini perempuan maning?? Maaaaakkk… Anaknya mau dikasih nama apalagiiiii iniii???!!

But to our surprise… Ternyata proses menemukan dan ketok palu nama si dedek ga serumit yang kami bayangkan sebelumnya. Hanya dalam beberapa kali sesi umpan-umpanan nama, kami langsung ketemu satu yang kami berdua suka. Nama tengahnya masih belum dapet sih, tapi setidaknya nama depannya udah toss-an lah sama bapaknya.

Continue reading →

The Ultimate Me Time

Dua minggu yang lalu gue mendapat kesempatan untuk merasakan yang namanya The Ultimate Me Time – dimana gue bisa menghabiskan waktu 1 hari penuh untuk diri gue sendiri. Gimana kok ya bisa begitu? Rasanya seperti apa? apa yang gue lakukan? mari disimak di bawah ini…

Jadi sebenarnya hari itu gue sudah ada rencana ikutan bachelorette party-nya calon istri sahabatnya Bubu. Sudah dari jauh-jauh hari mempersiapkan kado untuk si calon manten, dll… eeeeh pas sehari sebelum hari H, kaki gue kram dan abis itu kalo jalan susaaaaaah banget. Karena ga mau bikin pestanya jadi ga asik karena kedatangan bumil yang lagi loyo + ribet jalannya, akhirnya gue memutuskan untuk batal ikutan. Syedih siiih, karena gue cukup penasaran sama bachelorette party versi Swedia seperti apa.

Well enihooo.. karena hari itu niatnya gue akan pergi cukup lama, suami udah bikin rencana sendiri bareng neng Jo. Mereka mau ke Malmö seharian untuk ketemuan sama adek-adeknya suami. Karena gue ujuk-ujuk batal, ga berarti suami juga dengan rela melepaskan rencana yang udah dia buat untuk hari itu. Doski tetep lanjut mau berangkat pergi. Katanya suami “yaaaa.. anggep aja kamu liburan 1 hari penuh ga usah ngurusin Jo”.

Ya baeeeklaaaaaah..

Dan gue pun ditinggal di rumah sendirian…

Continue reading →

Cinta yang Tak Terbagi

Ahahaha.. Judul postnya sinetron amat yaa..?

Seperti biasa, dengan makin dekatnya hari H kelahiran si dedek maka makin sering galau lah si ibu hamil satu ini. Kali ini penyebabnya ga lain dari rasa risau kalau nanti ketika si adek lahir, gue sebagai ibu, ga bisa membagi hati gue dengan adil.

Yeah.. I know.. Banyak yang bilang “santai aja, nanti pas anaknya keluar juga kerasa kalau yang namanya cinta ortu ke anak itu ga akan pernah terbagi tapi malah bertambah porsinya”. Tapi tetep aja… Nama pun belum merasakan sendiri dan hanya bisa menebak-nebak bentuk perasaan itu seperti apa wujudnya (atau kalo kata orang bule mah ya “the fear of the unknown” gitu), gue tetep aja syenewen qaqa!

Manalah sejauh ini gue merasa ga bisa adil banget antara Jo dan calon adiknya. Di satu sisi gue berpikir “mumpung adeknya belum lahir, puas-puasin deh keruntelan sama si ‘kakak'”. Tapi di sisi lain, gue seperti menomor duakan si dedek bayi di perut dengan ga memberikan perhatian yang sama kayak yang gue kasih ke Jo dulu. Salah satu contohnya, gue jarang banget ngajak ngomong si dedek bayi di perut karena terlalu sibuk ngeladenin Jo atau udah terlalu capek sendiri dengan kondisi badan yang makin berat. Padahal waktu Jo dulu, lagi masak atau bengong juga masih kepikiran buat ngobrol-ngobrol sambil elus-elus sayang perut. Kali ini? Boro-boro deh. Lagi masak yang kepikiran “ini si Jo ngapain ya sekarang? Jangan-jangan semua minumannya udah ditumpahin semua ke sofa!” atau kalaupun anaknya duduk manis di kursi, tiap beberapa detik sekali gue harus menjawab panggilannya yang penuh nada demanding supaya ngeliat si Minions atau Upin Ipin yang lagi ditontonnya di iPad.

Continue reading →