For the love of stripes!

Lagi beberes pakaian di lemari tiba-tiba gue menyadari sebuah kenyataan yang menakjubkan. Turns out, I really love stripes. Dari kaos, sweater, blus dengan model garis tebel, garis tipis, garis warna item, merah, dll pasti ada aja di lemari. Bahkan kaos yang gue pakai ketika menulis post ini pun bermotif garis dengan perpaduan warna putih ijo. Sungguh cucok sekali sama tema postnya.

stripes2

Baju yang gue pakai ketika mengetik post ini

Agak ga jelas juga kapan awal mulanya gue menyukai motif pakaian bergaris-garis ini. Rasanya dulu gue selalu menghindari motif garis horizontal karena katanya motif tersebut bisa bikin pemakainya jadi terlihat “lebar” bukan? Tapi ternyata sekarang setiap kali belanja, pasti yang dicari motif bergaris terus. Abis motif garis itu menurut gue cukup bikin bajunya “rame” tanpa harus “keramean”. Lagom kalo kata orang Swedia mah. Not too little, not too much. Saking getolnya, sempat dalam waktu yang berdekatan gue membeli 3 buah baju dari 3 tempat yang berbeda dan ketika semua barang pesanan datang, lho kok motifnya kembaran semua begini yaaa.. hahaha

Continue reading →

Welcome to Sweden

Cerita-cerita culture shock atau proses seseorang beradaptasi di tempat baru bagi gue selalu menarik untuk diikuti. Bukan hanya bisa menambah informasi dan pengetahuan akan tempat tersebut, tapi bagi seorang perantau yang juga menjalani proses yang sama, gue bisa relate sedikit banyak akan apa yang orang itu lalui. “I feel you” gitu lah judulnya, apalagi kalau kisahnya juga terjadi di Swedia.

And that is why… I love this new TV series, WELCOME TO SWEDEN!

Welcome to Sweden adalah sebuah serial TV yang bercerita tentang usaha seorang pria asal Amerika Serikat bernama Bruce beradaptasi di Swedia karena mengikuti pacarnya, Emma, yang mendapat pekerjaan di Stockholm dan kebetulan memang orang Swedia asli.

Ah.. kisah ini GUE BANGET DWEEGH..

Yang sangat gue suka dari tv series ini adalah.. gue sangat melihat diri gue sendiri di Bruce. Well ga termasuk gaya Amerikanya sih (yang di acara ini digambarkan agak snob, “eh gue dari ameriki loooh” gitu), tapi dalam proses adaptasi yang harus dijalani oleh Bruce gue merasa familiar sekali. Contohnya seperti merasa sendirian di negara baru, ga punya kerjaan harus mulai semua dari awal, harus belajar bahasa baru yang sangat asing, berurusan dengan kantor imigrasi mengurus ijin tinggal, dsb. Yup, I’ve been there, done that!

Continue reading →

Not a baby anymore

IMG_0592.JPGKadang gue suka amazed setiap kali liat Jo sekarang kalau ingat betapa kecil dan keriputnya dia dulu waktu lahir, yang gue sampe ga tega gendongnya. Dimana sekarang kalau lihat Jo, gue suka berkomentar.. “She’s a big girl now, huh” dan Bubu nambahin “yeah, do you remember how she can fit my arm, now I have to hold her with my 2 hands”.

Tapi selain fisiknya yang berkembang pesat, kadang gue juga ngeliat si Jo ini suka belaga (sok) tua banget. Contoh paling anyar terjadi beberapa hari yang lalu. Saat itu gue lagi merasa lelah luar biasa. Badan kayaknya capeee banget. Pulang liburan trus ketemu cucian, musti balik mikirin masak, harus beresin rumah lagi, dll. Pokoknya mood acak-acakan lah. Manalah pas banget lagi PMS yang bikin level kegalauan naik 3x lipat. So, ketika gue butuh keluar rumah untuk belanja beberapa bahan masakan, cuma duduk untuk pake sepatu aja postur gue terlihat lemas pundung lesu, kayaknya kok pingin nangis bawannya.

Dan ketika duduk itulah tiba-tiba gue merasa tepukan dua kali di punggung gue. Ternyata si anak kecil yang nepok dan dengan kepala yang dimiringkan tanpa suara, mukanya seperti bertanya “kenapa Ma? Are you ok?”. Dengan suara lesu gue hanya menjawab “Mama lagi pake sepatu, Adek juga ambil sepatu gih”. And to my surprise, she really did grab her shoes. Biasanya anak ini kalau dikasih tau malah kabur kesana kemari kayak ga ngerti diajak ngomong apa. Tapi kemarin dia beneran ambil sepatunya dan bahkan mencoba memakainya sendiri.

Continue reading →

OTTG Series: Gagap Budaya di Jerman

Intermezzo dulu di sela-sela cerit.. ah who am I kidding, di sela-sela postingan pamer foto jalan-jalan kami minggu kemarin ke Jerman.

Gagap budaya di Jerman… who would’ve thought..

Dengan mengambil jalan darat sebagai rute perjalanan kami kemarin membuat gue lupa kalau sebenarnya Swedia dan Jerman itu — walaupun berada di belahan bumi dan benua yang sama, ga perlu ribet cek visa, dll – tetaplah dua negara yang berbeda. Jadi tentu aja ga aneh kalau memang budaya dan kebiasaannya ga sama. Tapi like I said.. aku lupaaaaa, jadilah kemarin selama jalan-jalan gue mengalami beberapa kejadian gagap budaya di Jerman.

1. Excuse me, can you speak English?

Ketika gue pindah ke Swedia dan musti belajar berani belanja dan jalan-jalan sendiri gue ga terlalu khawatir karena pada umumnya orang-orang Swedia bisa dan mau menggunakan bahasa Inggris jika diperlukan. Baik itu di pasar swalayan, toko baju, kedai kopi, dsb. Walaupun mungkin kemampuan bahasa Inggris orang yang bersangkutan pas-pasan, tapi bahasa Inggris bukanlah sesuatu yang dihindari. Yang penting yu en ai andersten, cincai lah hai.

So that’s why gue sangat bingung sewaktu sampai Hamburg kok kayaknya jarang bener bisa ketemu orang-orang (terutama yang berhubungan langsung, seperti contohnya petugas kasir) yang bisa berbahasa Inggris.

Contohnya suatu ketika gue berbelanja sabun dan shampoo di salah satu toko yang letaknya di tengah kota (yang seharusnya banyak turis doong), ketika gue sampai kasir untuk membayar sang petugas menyebutkan jumlah yang harus gue bayar dalam bahasa Jerman. Ya cencunya ik ga paham doong mba’e ngomong apa dan mata gue langsung jelalatan nyari display penujuk jumlah harga yang ga ketemu dimana. Hiks. Gue pun meminta ybs untuk mengulang jumlahnya dalam bahasa Inggris. Alih-alih menjawab dengan bahasa yang gue minta, doi tetap menjawab dengan bahasa Jerman. Eeerrr.. Baru akhirnya ketika orang yang berdiri di belakang gue “membantu” (bantunya gue kasih tanda kutip karena galak bener bokk mukenye) menyebutkan nominal yang dimaksud dalam bahasa Inggris lah gue baru ngerti sang petugas kasir ngomong apa. Huhuhuhu…

Continue reading →

OTTG Series: Greifswald – The charming little town

Greifswald..

Ada yang familiar atau tau itu apa? Atau ada dimana?

Kalau misalnya ga tau, hayuhlah mari kita toss berjamaah karena jujur aja sebelum jalan-jalan liburan kemarin gue juga belum pernah denger kata/nama kota tersebut.

Well eniho, kota Greifswald ini terletak di bagian timur lautnya negara Jerman dan ternyata pernah menjadi bagian dari Swedia (a long long loooooong time ago). Kota ini juga sepertinya salah satu kota pelajar (seperti Lund kalau di Swedia), karena universitasnya cukup terkenal di Jerman (one of the oldest one in the world). Posisinya yang dekat dengan dua pulau terbesar di Jerman, Rügen & Usedom, lah yang membuat kami memilih untuk pulang ke Swedia melewati Sassnitz yang berada di pulau Rügen instead of balik arah menuju Puttgarden lagi. Untuk mencapai kota ini dari Hamburg kami menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam non-stop melewati jalur jalan tol. Well actually not really 3 hours siiih, soalnya untuk keluar dari kota Hamburg sendiri kami sudah membuang waktu selama 45 menit. Riweh meeen jalan di Hamburg. Pucing pala belbi!

greifswald-00

image from google maps

Lihat kota Hamburg di sebelah kiri peta, Greifswald terletak jauh di sebelah kanannya (lingkaran merah). Pulau Rügen, tempat kota Sassnitz berada ada di bagian atas Greifswald.

Continue reading →

OTTG- Series: The Itinerary-Less Journey in Hamburg

OBS! Tons of pictures! Jadi maap kalo rada lelet loading postingannya ya ;)

hamburg-01

The central station | St. James’ Church | Rathaus

Biasanya kalau mau liburan ke tempat-tempat baru, terutama kalau kota tujuan kami di luar negeri, gue selalu mengusahakan membuat daily itinerary selama kami berada di kota tersebut. Ga harus detail sampai jam-jamnya segala siiih, tapi setidaknya dalam satu hari itu kami udah punya bayangan mau kemana-mana aja dan tentu aja dicari yang lokasinya deketan supaya ga abis waktu di jalan.

Tapi semua kebiasaan tersebut bubar jalan begitu Jo lahir. Tiap kali ada rencana jalan-jalan, gue selalu malas cari-cari info tempat must-see/things-to-do di kota tersebut. Pokoknya kalau liburan ya go with the flow aja lah. Paling gue cari 1-2 tempat yang gue pingin banget datangi dan sisanya pasrah ngikut kemana Papi Bubu akan membawa kami. Aslik beneran ga ada  mood aja gitu untuk browsing-browsing secara intense. Kemalasan tersebut juga muncul ketika kami mulai merencakan itinerary perjalanan ke Jerman ini. Bubu berkali-kali ngingetin “udah ketemu tempat-tempat yang mau kamu datengi belum?” dan gue hanya menemukan dua tempat aja, yaitu Miniatur Wunderland (cerita tentang tempat ini akan dibuat post terpisah ya) dan sebuah jembatan di Hamburg yang mau gue foto. The rest is up to you bebih.

Karena kami pergi tanpa punya plan yang tetap, akhirnya selama di Hamburg kami memutuskan untuk berpetualang menjelajahi kota tersebut dengan cara berjalan kaki saja. Toh juga setelah dipikir-pikir kami boyong stroller besar, ribet banget kalau harus bolak balik naik U-bahn/S-bahn. Ditambah lagi walau kami pada prinsipnya itinerary-less kami berusaha membuat satu guideline besar mengenai rute yang akan kami tempuh supaya lebih terarah lah jalannya. Dalam trip ini rute yang kami pilih selalu dimulai dari tengah kota dan menyebar dari sana. Modal kami jalan-jalan cuma Google Maps dari hp-nya Bubu (satu-satunya yang punya koneksi internet, hiks) dan kekuatan kaki nyampenya seberapa jauh.. Awalnya sempet jiper siiih, secara bawa stroller gede yah dan kalo liat di peta kok kayaknya jauh-jauh semua jaraknya. Tapi pas dijalanin.. nyampe-nyampe aja ternyata… hahaha.

Continue reading →

Our Trip to Germany: On the way and back

Halloooowww… saya kembali lagiiii..

Setelah menelantarkan blog selama seminggu lebih, akhirnya bisa kembali hopefully dengan banyak cerita. Yang dimana kebetulan semuanya akan berkisah seputar jalan-jalan kami kemarin selama seminggu ke Jerman. Yeaaay… *seru sendiri*. Berbeda dengan posting jalan-jalan gue sebelumnya yang selalu ditumplek jadi satu, kali ini gue akan membagi cerita jalan-jalannya menjadi beberapa post pendek (SPOILER ALERT: jangan pernah percaya kalo Bebe bilang bakal ngepost pendek). Soalnya setelah gue liat-liat fotonya kok rasanya bakalan jadi panjang banget kalau misalnya disatuin antara foto dan cerita jadi satu. Lagipula biasalah.. Modus supaya stok updatean posting jadi lebih banyakan gituuuh.. Muahahaha..

Well enihooo…

Perjalanan ini sebenarnya agak semi dadakan karena Bubu baru ngasih tau kalau dia akan dikirim ke Hamburg dan Greifswald hanya sekitar 1 bulan sebelum berangkat. Kenapa dadakan? Yah ceritanya doski pingin bikin surprise gitu deeeeh. Soalnya memang rencana ke Hamburg itu merupakan wacana yang hanya sukses menjadi angan-angan karena selalu aja ada alasan untuk ga jadi berangkat. So supaya gue ga (lagi-lagi) kecewa, suami sengaja nunggu sampai semua persiapan setidaknya fix 80% baru dia pengumuman.. Manis sekali yaa suamiku ini.. hahaha *padahal kayaknya sih dia takut dipelototin istrinya lagi*.

Karena trip ini pada hakikatnya adalah business trip buat Bubu tapi istri dan anak boleh ngintil ikutan, jadi semua persiapan akomodasi kami selama di Hamburg dan Greifswald sudah diatur oleh koleganya Bubu di Jerman. Begitu juga dengan pilihan moda transportasi yang setelah dipertimbangkan lebih jauh, ternyata lebih murah dan mudah lewat jalan darat aja menggunakan mobil.

Aseeeeeeek… akhirnya gue ngerasain juga lintas negara naik mobiiilll…

* * * *

Continue reading →

Cooking Diary: Menaklukkan Martabak Manis

Seminggu lebih ga ngeblog ternyata bikin otak buntu ya pas beneran kepinginan cerita. Udah 10 menit berlalu ngeliatin layar monitor tanpa ngerti mau nulis apa dan ujung-ujungnya malah buka online shop langganan dan mulai gritilan pingin belanja.. haaaaah.. *kekep dompet suami*.

But eniwei..

Martabak manis… oh martabak manis…

Sudah berkali-kali rasanya gue mencoba dan mencoba dan mencoba membuat jajanan yang satu ini tapi selalu aja hasilnya gagal melulu. Padahal sama juga seperti si Chiffon cake, pertama kali gue ngejajal bikin martabak manis ini gue menggunakan adonan setengah jadi dari Pondan. Dimana seharusnyaaaa hasilnya diharapkan berhasil dooong. But NOOOO.. saat itu adonannya ga bersarang dan kerasa banget bantetnya. Ugh.. Sejak itu udah beberapa resep martabak manis gue coba. Dari yang menggunakan ragi sampai ya ga sama sekali. Hasilnya? yaaaaah.. begitu lah.

The thing is, ga kayak chiffon cake yang gue masih rela bikin berulang-ulang meskipun bantet karena masih lumayan enak dimakan, martabak manis ini selalu menyebalkan kalau gagal. Udahlah ga bersarang yang bikin adonannya jadi padat dan keras, rasanya pun ga karuan bikin eneq kalo dimakan kebanyakan. So that’s why martabak ini menjadi proyek penasaran yang sangat gue tunda-tunda. Nunggu resep yang kiranya menjanjikan dulu barulah mau gue jajal.

Kesempatan pun datang dari salah satu teman gue yang sekarang lagi menetap di Australia. Kebetulan few months back gue sempet liat dia majang foto martabak manis di path-nya yang keliatan super kece. Mumpung lagi mood bikin kue tapi males baking, gue langsung nanya ybs akan resep yang dia pakai dan langsung diarahkan ke blog ini. Ngeliat bahan dan caranya keliatan gampang bener, resepnya langsung dijajal.

Continue reading →