Lanjut lagi di cerita perjalanan liburan paskah kemarin. Bagi teman-teman yang belum baca bagian pertama bisa menuju ke TKP yaaaa…

* * * *

Sabtu, 7 April 2012

Setelah pada hari Jumatnya seharian ujan dan berangin, hari Sabtu pagi aku berharap hari itu akan lebih cerah. Dengan gembira dan rasa penuh optimis aku ngintip jendela dapur and oh boy.. I was so….WRONG!!!!

Walaupun tipis dan ga terlalu deras, tapi di luar udah mulai terlihat ujan…SALJU.. Yuuuk marii.. Berhubung aku dan bubu udah niat jalan-jalan dan sayang juga kalau ga jadi kemana-mana padahal udah bayar sewa mobilnya, kami berdua memutuskan untuk tetap pergi. Siapa tau nanti di tengah jalan udaranya berubah cerah. Hey, you never know… it is April anyway…

Note: Untuk foto-foto di bawah ini kalau beberapa agak burem/ga fokus, maklumin aja yaaaa… abis kebanyakan ngambilnya dalam kondisi di jalan dengan kecepatan tinggi.

Bermodal GPS dari HP ku yang super canggih itu *cieeee*, kami memulai perjalanan. Sebelumnya sempet-sempetnya kami mampir dulu ke pasar swalayan dan membeli ayam panggang untuk bekal makan siang nanti. Masalahnya wiken itu kan lagi hari libur nasional, jadi kami ga tau apakah resto-resto di sekitar tempat yang akan dikunjungi itu buka ato ga… Lagipula lebih ngirit kalau beli di swalayan kan?? Hidup peliiiiit iriiiit.. hihihi..

Tujuan kami yang pertama adalah Ales Stenar di pinggir kota Ystad.

Titik A kota Malmö, titik B lokasi Ales Stenar

Kiri: Di jalan tol… Lagi-lagi sepi yaaah.. ^_^ | Kanan: Catching the storm

Ga seperti hari sebelumnya dimana kami nyoba lewat jalan biasa, hari ini kami menggunakan jalan tol. Oh iya, jalan tol di Swedia itu bentuknya mirip-mirip kayak di Indo. Bedanya kalau di sini ga perlu bayar biaya masuk tol. Karena pengguna mobil di Swedia juga ga terlalu rame, jalur di setiap arah pun ga terlalu banyak. Malah di beberapa bagian hanya ada 1 jalur aja. Sepanjang jalan tol menuju Ales Stenar, pemandangannya bisa dibilang agak membosankan.. Nyaris aku ketiduran beberapa kali saking bosennya. Tapi sempat juga kami melihat sebuah pemandangan unik. Di sebelah kiri jalan terletak sebuah patung seorang anak laki-laki yang terlihat tengah mengendarai seekor angsa.

Patung tersebut ternyata diambil dari sebuah cerita The Wonderful Adventures of Nils yang bukunya mengajarkan ilmu geografi wilayah Swedia untuk anak-anak SD. Bagus juga ya idenya.. Yang aku ga ngerti, kenapa juga ditaronya di pinggir jalan tol gitu.. Emang sih jadi gampang di liat, tapi kan namanya juga jalan tol yaa.. liatnya dalam kondisi kecepatan tinggi, mana bisa puas…??!!

Balik ke kondisi jalan menuju ke Ystad, hujan salju yang tadinya rintik-rintik malah turun makin deras. So much for the hot and sunny weather that we both hope for… Walaupun gitu semangat kami tetap membara kok, ga ngaruh lah salju di luar *songong*.

maknyus ya ujan saljunyaaa

Setelah ± 1 jam nyetir, kami sampai juga di Ales Stenar. Sampai di parkiran, aku cek-ricek angin dengan membuka jendela mobil sedikit. Ebuseeet, anginnya asli keceng abiss. Sempet jiper mau keluar, apalagi setelah diliat-liat, untuk mencapai Ales Stenarnya sendiri harus jalan menanjak beberapa ratus meter. Oh whyyy?? Akhirnya kami malah memutuskan untuk makan ayam panggangnya dulu di mobil.. Wkakakaka.. Emang dasar pasangan gembul. Kenyang ngeludesin ayam-ayam tak berdosa itu, aku dan bubu mulai jalan ke arah Ales Stenar. Oh iya, untuk melihat Ales Stenar itu gratis looooh.. Enak ya? hihihi…

Mejeng sebentar sewaktu jalan menanjak ke Ales Stenar – photo taken by bubu

mending pilih ke kanan aja kali yaa.. nyari anget… :P – photo taken by bubu

Ales Stenar adalah sebuah peninggalan sejarah yang bentuknya mirip-mirip Stonehenge di Inggris. Batu-batu besar berbentuk pipih di atur sedemikian rupa dalam posisi elipse. Menurut cerita rakyat orang Scania (Swedia bagian selatan dan Denmark), di tempat ini pula terletak makan seorang raja yang bernama King Ale.

Pas sampai di bagian atas, anginnya makin maknyus kencengnya. Aku yang kali ini sedikit pintar dengan meminjam jaket winter adek iparku tetap merasa kedinginan. Si bubu malah lebih parah karena cuma pakai jaket biasa, untungnya dia ngedoble kaosnya dengan sweater, jadi setidaknya agak bantu anget biar kata dikit juga. Udah gitu salju masih turun lumayan deras. Klop banget dah…

keliatan kan tuh saljunya beterbangan dengan hebohnya… – photo taken by bubu

Saking dinginnya, udah ga bisa tengil bergayaphoto taken by bubu

Karena udara yang dingin dan baju yang ga mendukung sama sekali, kami langsung buru-buru turun. Sesampainya di halaman parkir, kami nyempetin beli magnet kulkas bergambar posisi Ales Stenar dari atas. Harganya berapa ya.. Sekitar 25 kronor kali ya. Setelah itu kami mampir ke satu-satunya cafe yang buka. I really need something warm.. Ga ku ku dinginnya… Pas diliat-liat ternyata orang-orang yang nekat mengunjungi tempat ini ga sedikit loh. Parkirannya lumayan penuh juga dan selalu ada mobil yang baru datang. Mungkin mereka se-masochist aku dan bubu.. Suka menyiksa diri sendiri.. :P

Puas menghangatkan diri dengan segelas coklat panas, aku dan bubu berjalan ke arah sebuah tempat yang dari luar terlihat seperti gudang. Pas masuk ke dalam baru ketauan kalau tempat ini adalah toko yang menjual produk seafood. Beberapa produk sudah dibumbui, sisanya masih merupakan bahan mentah. Tadinya aku mau beli beberapa potongan ikan, cuma kata bubu.. “mahal ah, ga usah” yaaaaaa… Kok gituuu… *pundung*. Karena ga ada yang mau dibeli dan kondisi tokonya makin lama makin ramai, kami kembali ke mobil. Tujuan kami berikutnya adalah museum Glimmingehus yang terletak di sebuah kota bernama Simrishamn. Setelah dari sana rencananya dilanjutkan menuju sebuah tempat wisata yang bernama Kungsgraven di daerah Kivik.

Simrishamn ada di titik C dan Kivik terletak di titik D

Glimmingehus dari kejauhan

Glimmingehus ini merupakan bekas pusat pertahanan di masa perang dulu. Dibangun oleh pemerintah Denmark karena sebelumnya propinsi Skåne ini memang milik Denmark. Bagaimana bentuk dalamnya?? Saya juga ga tau.. wkakakakak. Jadi pas sampai parkiran museum, aku dan bubu duduk-duduk di mobil sebentar dan ga ada yang siap-siap ngambil jaket atau gimana. Ternyata kami berdua sama-sama males keluar lagi dari mobil… hahaha.. Kalo dipikir-pikir sih konyol. Udah jauh-jauh nyetir, sampe tempatnya malah males… We both blamed the weather for being so damn lazy… :P Paling enak emang kalo nyalahin keadaan.. hihihi…

karena males, cukup foto-foto dari mobil aja…

Kelar males-malesan di dalam mobil, perjalanan kami lanjutan menuju ke kota Kivik. Rute kami ternyata melewati berbagai macam padang pertanian yang luas. Di sela-sela rumah terkadang terlihat gereja di sana sini. Kalau katanya bubu, banyaknya gereja di daerah pedesaan ini dikarenakan jaman dulu status kemakmuran sebuah desa diukur dari seberapa besar gereja setiap desa bisa bangun. Semakin bagus dan megah, artinya desa itu ditinggali oleh para petani kaya. Oleh karena itu setiap desa berlomba-lomba membuat gereja-nya masing-masing.

salah satu gereja di tengah pedesaan

Wuuuihh.. udah panjang aja nih postingannya… mending lanjut ato ga yaaa???

Lanjut aja lah yaa sekalian.. udah kepalang tanggung..

Okey, where were we? oh iya.. otw ke Kivik yaaa? Kungsgraven atau terjemahan bebasnya berarti Makam Sang Raja ini adalah objek wisata yang literately berziarah ke sebuah makan. Bentuk makamnya unik banget. Batu-bantu bulat besar ditumpuk berbentuk sebuah bukit kecil dan di dalamnya lah kita bisa melihat makan sang raja. Sama seperti Ales Stenar, untuk masuk ke objek wisata ini gratis. Aku dan bubu nyoba jalan ke dalam tomb. Di sana hanya ada 1 buah ruangan yang besarnya sekitar 3½ m x 2½m. Aku berada di dalam ruangan terlalu lama, mungkin cuma 1½ menit kali ya.. Entah kenapa, hawa-nya ga enak aja di dalem. Tiba-tiba aja aku ngerasa deg-degan luar biasa. Padahal “pintu” masuknya paling hanya berjarak 2-3 meter dari makam tapi rasanya aneh di dalam sana.

Kiri: Jalan menuju tomb-nya | Kanan: “Pintu” masuk tomb – posisi makamnya persis dibalik kayu-kayu itu

Dari Kivik, kami memutuskan untuk langsung pulang ke Helsingborg. Pas ngecek GPS, ada 3 rute berbeda yang bisa kami tempuh. Bubu memilih rute pertama yang memang menurut perhitungan GPS-nya adalah rute tercepat. Pilihan bung bubu ini ternyata tepat sekali. Inget kan kalau seharian ujan salju? Nah sebelumnya aku sempet misuh-misuh karena udaranya jadi dingin abis. Sekarang aku malah bersyukur banget kalau sebelumnya hujan salju. Karena kalau ga, gimana bisa aku dapetin foto-foto seperti dibawah ini…

Indah banget ga seeeeeeh ????? Kalau kata Niee, serasa di dalam hutan misteri dengan berbagai macam peri tinggal di sana.

Bagian terakhir perjalanan hari itu hanya diisi rute jalan tol aja. Ajaibnyaaaa, kira-kira setelah melewati daerah Malmö, udaranya langsung cerah ceria gegap gempita bahagia. Langitnya biru lengkap dengan hiasan awan putih bak kapas dimana-mana. Ga ada tuh sisa-sisa kenyataan pahit kalau sebelumnya hujan salju dari pagi hari. See, bener kan kata-kataku tadi.. you just never know how’s the weather gonna turn out.. Biar kata telat terangnya tapi ga papa lah.. ya ga?

Ceria ya cuacanyaaaa…

Yah itulah cerita roadtrip hari ke-2 aku dan bubu… Panjang bener ya joooo postingnya… *ngos-ngosan ngetik* *lap keringet*. Di post berikutnya aku akan bercerita tentang kunjungan kami ke Kullen Lighthouse.. Bukan ini bukan lighthouse miliknya Edward Kullen kok.. #krik #nicetry…

Stay tune guys…