Keep Holding On

Saat gue menulis post terakhir, seminggu yang lalu, jujur tujuan gue menulis sebenarnya ada dua. Satu untuk gue sendiri dan yang ke dua untuk cari perhatian.

Yang untuk diri gue sendiri, gue merasa setelah selesai posting, gue akhirnya mengakui kalau memang gue sempat depresi. Karena selama ini gue merasa gue baik-baik aja, hidup gue juga cukup-cukup aja. Jadi gue pikir seharusnya ga ada alasan untuk gue untuk mempunyai perasaan seperti ini. Tapi toh ternyata rasa itu ada dan posting kemarin gue gunakan sebagai titik konfirmasi, kalau iya I’m not that happy and maybe I need help.

Untuk yang ke dua, yup, gue memang mencari perhatian. Mungkin lebih halus kalau disebut “a cry for help”. Entahlah… bagi gue agak sulit ngebahas masalah ini secara detail ke seseorang atau group of friends (eh sempet ding cerita ke sahabat gue, tapi ternyata kami sedang dalam kondisi yang sama, so we pretty much drowning in our own misery.. LOL). Karena itulah gue lebih memilih untuk menuliskannya saja. Tapi di saat bersamaan, gue merasa butuh teman sharing, so blogging to the rescue!

(more…)

From The Dark Little Corner

Hari ini genap sebulan sejak kami kembali dari liburan ke Indonesia selama 2 bulan. Dan harus gue akui, rasanya hampir saja gue ga mampu melewatinya. Yang gue paling ga suka kalau pulang kampung itu adalah efek gelap yang datang setelahnya. Apalagi setiap gue pulkam, durasinya cukup lama. Ga pernah kurang dari 2 bulan. Jadi baru aja masuk lagi ke comfort zone, eh tiba-tiba whiplash dan disuruh kembali ke kenyataan. Hasilnya?...

Be, Kurus Banget Sih!

Dan berbagai macam variasi kalimat dengan maksud yang sama pun seperti menjadi pembuka nyaris setiap orang yang ketemu gue secara langsung. Dari emak gue sendiri, lanjut ke adek (waktu kami ketemu di bandara Changi kemarin), dan kemudian teman-teman yang sudah sempat bersua selama perjalanan pulkam ini.

Kita stop dulu sebentar untuk sebuah penjelasan… No, gue ga tersinggung sama sekali ya akan komentar yang gue terima soal kurus ini. Beneran deh.

The thing is, harus gue akui, gue emang kurus banget. Berat badan gue sekarang bisa dibilang berat badan teringan selama ini. Kayaknya ga jauh dari sekitaran 40 – 42 kg aja. Cukup lumayan jauh kalau dibanding BB normal gue, yang seharusnya disekitaran 45kg. Makanya, kalau ada yang komentar kekurusan, gue cuma bisa bilang “iyaaaaa, emang niiiiih”.. hahahaha

Penurunan berat badan gue setelah melahirkan adek E emang termasuk yang super cepat. Kalo ga salah inget yaaa, hanya 3 bulan sejak Adek E lahir, gue udah balik ke BB semula di 45kg. Setelah itu bukannya stop, tapi malah terus dan terus turun. Sampai titik dimana gue merasa ketakutan sendiri karena kok rasanya gue makan normal-normal aja tapi BBnya ga nambah-nambah. Trus itu lemak-lemak pada lari kemanaaa??

(more…)

“Nonton” K-Drama via Recaps

Bagi gue, untuk menikmati K-drama secara khusuk itu butuh komitmen yang cukup besar. Sudahlah harus konsen supaya ngerti mereka lagi ngomongin apa, misalnya di tengah-tengah adegan penting ada bocil yang ribet minta ini itu tuh… haaaaah… langsung ga mood lagi deh. Karena itulah, sejak beberapa tahun terakhir ini gue lebih sering “menonton” k-drama dari recaps aja.

But, btw, emang recaps itu apa siih?

Jadiii… di saat sebuah K-drama tayang di stasiun TV, setiap episodenya kemudian direcap oleh berbagai macam komunitas. Recap di sini pun ga sekedar ringkasan singkat dari episode yang dimaksud. Tapi benar-benar penjelasan per-scene yang muncul di episode tersebut. Ga lupa juga beberapa potongan screenshot melengkapi cerita yang dituliskan oleh sang recapper (kalo ga salah ini sebutannya).

(more…)

Puasa Facebook

Udah sekitar kira-kira dua bulan terakhir ini gue puasa facebook. Bukan karena ngambek website gue diblock. Cuma sedang lelah aja sama FB. Selama ini gue buka FB juga cuma buat chat di messengernya dan kadang ngintip-ngintip grup jualan tas (minta diracunin banget LOL). Kadang sembari baca-baca status mentemen di timeline dan kadang ikutan nimbrung kalo udah mulai ngebahas soal drama Korea. Selain itu.. ya ga ada sih. Bikin status sendiri jarang, pasang-pasang foto juga kalo lagi mood aja. Dan pada akhirnya gue merasa, ah mending FB di hape di delete aja.

Which I did.

Dan ternyata… I don’t miss it that much.

Gue rasa karena saat-saat sebelum gue memutuskan untuk delete FB dari HP pas persis setelah pilkada, dimana atmosfer di timeline FB tuh masih panas-panasnya, jadi bisa kabur dari suasana yang menyesakkan hati tuh rasanya legaaaa banget. Tapi namanya juga awalnya maksain diri untuk ga buka FB, godaan tuh rasanya kenceeeng banget. Kayak bocah yang begitu dibilang “jangan”, eh malah makin jadi kepinginan megang. Ahahahah. Untunglah setelah waktu berlalu gue ga merasa terlalu kangen lagi untuk buka FB. Sama lah kayak perasaan gue ke twitter sekarang. Sedikit demi sedikit mulai terlupakan.

(more…)